Monday, March 21, 2011

Tokoh: Rektor Undip, Prof. Sudharto

Dulu, Sudharto P Hadi 'hanya' dosen biasa. Hari-harinya diisi dengan mengajar dan blusukan untuk penelitian. Kini, aktivitas itu tak leluasa dilakukan karena di depan namanya tersemat embel-embel Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Sore itu, Selasa (1/3/2011), ada beberapa orang di lantai dua Rektorat Undip Pleburan, Jalan Imam Bardjo, Semarang. Salah satunya, Sudharto. Lelaki yang biasa disapa Prof Dharto ini tampak hendak masuk ruangannya. Tapi begitu melihat kedatangan detikcom, ia langsung menghentikan langkah sambil berujar, "Tunggu sebentar ya, Dik. Saya mau salat dulu."

Prof Dharto resmi menjadi rektor periode 2010-2014 pada tanggal 18 Desember 2010 lalu. Lelaki kelahiran Klaten 57 tahun silam yang sebelumnya memegang jabatan Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan Undip itu mengalahkan dua pesaingnya sesama profesor, Susilo Wibowo (incumbent) dan Arief Hidayat (Dekan FH Undip).

Di luar kampus, nama Prof Dharto cukup berkibar. Tak hanya di level lokal, tapi juga nasional dan internasional. Peraih Master of Environment Studies dari York University, Toronto Canada, dan Doktor dari School of Community and Regional Planning University of British Columbia (UBC), Vancouver, Canada ini kerap jadi acuan untuk isu-isu lingkungan. Tak heran, banyak orang mengenalnya sebagai pakar lingkungan.

Penulis sejumlah buku lingkungan ini bukan tipe dosen yang suka duduk berceramah di kampus. Di sela-sela mengajar, ia blusukan ke berbagai pelosok, bertemu sesama peneliti, masyarakat, dan aktifis LSM. Karena aktivitas ini, orang jadi percaya, analisis lelaki yang biasa disapa Prof Dharto ini bukan sekadar teori, melainkan punya basis pijakan di lapangan.

Prof Dharto juga memegang beberapa jabatan strategis. Sejauh ini, ia tercatat sebagai Country Coordinator pada Sustainable Energy and Environmental Forum yang berbasis di Kyoto University Jepang, peneliti untuk Legal Empowerment and Industrial Pollution kerja sama China dan Van Vollenhowen Institute (VVI), Leiden University Netherlands, Dewan Pertimbangan Permbangunan Kota (DP2K) Semarang, Pengawas Yayasan Bina Kehidupan Lestari Semarang, Anggota Kelompok Kerja Forum Karst Sukolilo, dan lain-lain.
Pintu ruangan rektor terbuka separuh. Sang empunya melongok, "Ayo, silakan masuk," ujarnya. Setelah menutup pintu, Dharto pun menyusul duduk.

Ruangan pucuk pimpinan Undip ini sangat sederhana. Ukurannya sekitar 5x8 meter. Tak banyak aksesori yang dipajang. Hanya rak buku, beberapa cenderamata, dan panji-panji almamater. Di ujung ruangan terdapat kursi dan meja 'kebesaran' rektor. Di depannya, kursi ditata melingkari dua meja.

"Dulu sering ke sana ke mari, kini jadi rektor yang harus mengantor dengan jadwal yang serba pasti, bagaimana rasanya?" tanya detikcom.

Prof Dharto tak langsung menjawab. Ia tersenyum seperti berusaha mencari kata pembuka yang tepat. Lelaki berusia 57 tahun ini mengaku kesulitan beraktivitas seperti sebelumnya. Ia tak sewaktu-waktu ke mana-mana, karena harus mengikuti agenda kampus.

"Saya merasa ada yang hilang. By nature, saya ini dosen. Tugasnya, mengajar dan meneliti. Ini 25 persen masih seperti itu, tapi yang 75 persen terbawa aktivitas posisi baru. Sekarang menggelandang (untuk penelitian), susah," kata lelaki bernama lengkap Sudharto Prawoto Hadi ini.

Yang juga agak merepotkon, lanjut Prof Dharto, 'jabatan-jabatan' di luar kampus tak bisa digantikan. Ia mencontohkan, setelah terpilih menjadi rektor, ia ingin mundur sebagai Country Coordinator pada Sustainable Energy and Environmental Forum, tapi oleh lembaga tersebut ditolak. Alasannya, jabatan rektor justru dianggap bisa jadi alternatif untuk mengelaborasi program.

"Di lembaga lain juga begitu. Jadi ya sampai saat ini saya masih pegang jabatan-jabatan itu," ungkap mantan Pembantu Rektor I Bidang Akademik ini.

Jabatan rektor kadang membuat Prof Dharto tidak cukup nyaman. Suami Sri Budiarni ini bercerita saat berkunjung ke suatu daerah untuk penelitian, informasi kedatangannya terdengar kemana-mana. Usut punya usut, ternyata sebelumnya terpasang spanduk dan baliho dengan tulisan "Selamat Datang Rektor Undip Semarang". Wakil bupati (wabup) di daerah tersebut bahkan merelakan waktu menemuinya. Ia sudah menyatakan tak perlu disambut karena datang untuk penelitian, tapi sang wakil bupati tidak mau mengerti.

Di sela jadwal mengurus kampus, Prof Dharto masih menyempatkan diri mengajar.  Minimal dua hari dalam seminggu, yakni Jumat dan Sabtu. Di S-1, ia mengajar Manajemen SDM dan Perilaku Konsumen. Sementara di S-2, dia memberi kuliah Metodologi Penelitian, Mediasi Lingkungan dan Perencanaan.

Kadang Prof Dharto juga masih menguji penelitian mahasiswa. Tak hanya di Undip, tapi juga universitas lain. Ia pernah malu gara-gara jadwal ujian mahasiswa berbarengan dengan kunjungan BPK ke Undip. "Padahal saya bilang oke untuk menguji di UGM. Lalu, saya batalkan mendadak rencana menguji itu. Saya merasa nggak enak sendiri," ungkapnya.
Ditanya soal visi misinya sebagai rektor, Prof Dharto menyatakan ingin Undip unggul dan peduli. Unggul artinya bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional. Peduli artinya tidak mengabaikan lingkungan sekitar. Untuk dua hal itu, dia berusaha menciptakan kampus yang nyaman atau punya daya dukung terhadap lingkungan, dan kampus dengan tata kelola yang akuntabel dan demokratis.

"Kalau kampus nyaman, mahasiswa bisa memanfaatkan untuk diskusi atau acara lain. Saya tidak ingin mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang, kuliah pulang," ucapnya.

Prof Dharto kini menahkodai 'perahu' dengan sekitar 50 ribu penumpang yang terdiri dari staf dan mahasiswa. Dia harus membuat civitas akademika nyaman dan menciptakan lulusan-lulusan unggul. Meski harus kehilangan banyak 'kesenangan', ia mengaku rela. Baginya, amanah harus dilakukan sekuat tenaga.

"Tapi sebetulnya biasa saja. Jabatan kan cuma baju. Di ruang kuliah, saya dosen. Di rumah, saya tetap bagian dari keluarga. Di masyarakat, saya warga biasa," katanya merendah.

Hari kian sore. Gerimis mulai turun. Saat detikcom berpamitan, ternyata dua orang tamu tengah menunggu giliran di luar ruang. Prof Dharto boleh saja ingin dan berusaha beraktivitas seperti sebelum menjadi rektor. Tapi ia tetap tak bisa menolak konsekuensi dari jabatan itu: lebih sibuk, lebih banyak tamu, lebih banyak di kantor, dan lebih-lebih yang lain.

Sumber: www.undip.ac.id

3 comments:

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..