Monday, July 11, 2011

Peningkatan Mutu Rawat Inap Rumah Sakit

 

Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, pembangunan, sosial dan administrasi kesehatan dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu rumah sakit di semua tingkatan. Kebutuhan masyarakat akan layanan rumah sakit yang bermutu semakin meningkat seiring dengan semakin lebih membaiknya perekonomian dan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Akan tetapi seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa peningakatan mutu rumah sakit berjalan di semua tingkatan, yang berarti tidak difokuskan pada terciptanya mutu yang baik di salahsatu/beberapa unit saja, dalam hal ini yang dimaksud adalah unit rawat inap. Mutu rumah sakit adalah cerminan dari semua sistem yang berjalan di dalam rumah sakit itu.



Pertumbuhan rumah sakit (RS) di Indonesia cukup tinggi dalam kurun sepuluh tahun ini. Tetapi, pertumbuhan tersebut tidak menunjukkan baiknya kualitasnya. Dari 1.354 rumah sakit di Indonesia, yang terakreditasi baru 534 unit RS atau sekitar 41,33 persen. UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit tegas menyatakan seluruh rumah sakit wajib akreditasi yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Perkembangan ini tentu selain menuntut baiknya kualitas pelayanan juga menciptakan adanya persaingan, baik persaingan regional, nasional maupun internasional. Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) memperkirakan, layanan kesehatan akan bersaing ketat setelah adanya China-ASEAN Free Trade Area. Dengan berlakunya ACFTA, maka akan semakin banyak didirikan RS swasta dan membanjirnya dokter asing. Oleh karena itu, RS dengan bentuk BLU nya ini memiliki tantangan berat untuk tetap mampu bersaing dan meningkatkan mutu pelayanannya.

Pelayanan Rawat Inap yaitu pelayanan kepada pasien yang memerlukan observasi, diagnosis, terapi atau rehabilitasi yang perlu menginap dan menggunakan tempat tidur serta mendapatkan makanan dan pelayanan perawat terus menerus. Untuk dapat memberikan pelayanan dengan kualitas yang baik maka perlu adanya peningkatan pelayanan di semua bidang secara terpadu, terencana, serta baik, sehingga diperlukan konsep manajemen mutu terpadu. Konsep total quality management (TQM) merupakan pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematis dan perbaikan terus menerus, yang cocok untuk memenuhi kebutuhan mutu pelanggan, yang sederhananya produk yang bermutu kalau dapat memuaskan pelanggannya.

Mutu atau kualitas pelayanan sangatlah tergantung pada penilaian penerima pelayanan itu. Disebutkan secara umum bahwa terdapat 5 dimensi mutu oleh Parasuraman, yaitu: a) Reliability (keandalan), b) Responsiveness (ketanggapan), c) Assurance (kepastian / keyakinan), d) Empathy (memahami keinginan pelanggan), dan e) Tangibles (tampilan fisik layanan). Itu semua sangatlah berpengaruh dan juga membantu dalam rangka peningkatan mutu pelayanan. Unit rawat inap yang didalamnya selalu terjadi aktivitas pelayanan, pengobatan dan perawatan setiap jamnya sehingga hubungan dengan sang pasien sangat begitu dekat, mengharuskan SOP, SPM dan mutu pelayanan yang baik. Kepuasan pasien tentu memberikan secara tidak langsung kesembuhan pasien dan pada akhirnya menunjukkan kualitas yang baik yang dapat dilihat dari data statistik rekam medis unit rawat inap. Selain dilihat dari data statistiknya, mutu pelayanan rawat inap juga dapat dilihat serta dikembangkan dari faktor-faktor yang lain yang terangkum kedalam dimensi mutu di atas.

Konsep peningkatan mutu untuk unit rawat inap yang bisa dirancang dalam metode total quality management dimana banyak para tokoh yang memberikan konsep tentang mutu terpadu ini. Salah satunya adalah Prof. Juran yang mempraktikkan konsep management process yang terpadu di tahun 1940 an. Terdapat tiga proses manajerial organisasi yang dikenal dengan trilogi Juran. Yaitu quality planning (perencanaan), quality control (pengawasan) dan quality improvement (perbaikan). Dengan menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Juran ini, dapat dilakukan upaya peningkatan mutu di unit rawat inap RS.

Dalam perencanaan mutu, yaitu proses dalam mengidentifikasi pasien dan proses pelayanan agar selanjutnya dapat dilakukan pelayanan yang memuaskan dengan alternatif perencanaan dengan cara: Pertama, curah pendapat (brainstorming) untuk menganalisis, menentukan, mengidentikasikan sebab-sebab dari masalah yang berkaitan dengan mutu dan kepuasan pelanggan. Kedua, diagram alur, berupa tahapan proses dari sistem penyelenggaraan rawat inap. Ini juga diperuntukkan untuk analisis, diskusi, menemukan titik perbaikan dalam proses. Ketiga, analisis SWOT yang digunakan untuk analisis masalah-masalah dengan kerangka kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Keempat, rangking preferensi, yang dapat digunakan untuk memilih gagasan dan solusi masalah di antara beberapa alternatif. Kelima, analisis fish bone, antara lain alat untuk mengkategorikan berbagai sebab dari suatu masalah dan menganalisis yang terjadi dalam suatu proses pelayanan di unit rawat inap. Keenam, benchmarking, merupakan proses pengumpulan dan analisis data dari unit ini dibandingkan keadaan di unit rawat inap lain. Hasil ini akan menjadi patokan untuk memperbaiki keorganisasian secara terus menerus sehingga bisa berkembang. Ketujuh, penilaian kritis, untuk membantu memikirkan apakah suatu proses memang dibutuhkan, tepat dan ada alternatif yang lebih baik. Alat-alat inilah yang digunakan dalam perencanaan mutu untuk mendapatkan masalah yang perlu ditangani dan sekaligus pemecahan yang bisa dilakukan dalam kaitannya perbaikan pelayanan. Kajian ini hendaknya dilakukan oleh manajer unit sebagai evaluasi mutu pelayanan.

Pengawasan mutu, yaitu proses produk pelayanan diperiksa dan dievaluasi dibandingkan dengan kebutuhan yang diinginkan pelanggan/pasien. Monitoring dan evaluasi tidak diragukan betapa pentingnya dalam proses manajerial. Adanya kedua hal ini untuk menjamin efektivitas dan efisiensi proses pelayanan yang terselenggara. Evaluasi bisa digunakan untuk pembanding target pasien / pelayanan yang ditentukan dengan yang dicapai, waktu sekarang dengan sebelumnya. Pengawasan perlu dilakukan secara rutin. Dalam  pengawasan mutu di unit rawat inap, disebutkan sebelumnya pentingnya data statistik rekam medis. Beberapa kegunaan rekam medis adalah sebagai bukti tertulis segala tindakan pelayanan yang berguna untuk analisa, penelitian, evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Selain itu sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien, ini sangat berhubungan dengan kinerja pelayanan bermutu. Pembuatan dokumen ini dibutuhkan sebagai pengawasan mutu karena ada beberapa indikator rawat inap menurut Depkes. Antara lain: a) BOR dengan standar ideal menurut depkes 60 – 85 %, b) BTO dengan standar 40 – 50 kali, c) LOS dengan standar 6 – 9 hari, d) TOI dengan standar 1 – 3 hari, e) NDR dengan standar ≤ 25 ‰, f) GDR dengan standar ≤ 45 ‰. Dengan data standar indikator rawat inap ini bisa digunakan untuk mengambil kebijakan terkait mutu pelayanan.

Perbaikan mutu, suatu proses di mana mekanisme yang sudah mapan sehingga mutu dapat dicapai dan dapat dilakukan suatu kemajuan dan perbaikan guna meningkatkan mutu. Dalam proses ketercapaian mutu, hal yang berpengaruh adalah Pertama, kepemimpinan. Ketika memutuskan untuk menggunakan MMT/TQM sebagai kunci proses manajemen, peranan manajer senior sebagai penasihat, guru, dan pimpinan tidak bisa diremehkan. Manajer senior harus mampu memberikan persepsi kepada para pegawai akan pentingnya kepuasan pasien. Persamaan persepsi para pegawai ini akan memunculkan komitmen untuk memberikan yang terbaik. Kedua, komunikasi dan dukungan. Peran manajer senior juga harus mampu berkomunikasi dengan baik ke internal unit keorganisasian maupun eksternalnya. Tidak mungkin manajer senior akan berhasil tanpa bantuan dan dukungan dari eksternalnya, baik itu manajer lain, pimpinan maupun konsultan. Komunikasi dalam suatu lingkungan mutu mungkin perlu ditempuh dengan cara berbeda-beda agar dapat berkomunimasi kepada seluruh karyawan mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan mutu.

Mengenai perbaikan dan kemajuan mutu, dapat dilakukan usaha-usaha seperti. Pertama, pendidikan dan pelatihan. Mutu didasarkan pada keterampilan setiap karyawan tentang apa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Mendidik dan melatih semua karyawan, memberikan informasi yang mereka butuhkan untuk menjamin perbaikan mutu dan memecahkan persoalan. Pelatihan dan pendidikan bisa berupa benchmarking juga, dan teknik lainnya yang digunakan dalam rangka perbaikan pelayanan guna mencapai kepuasan pasien. Kedua, reward dan punishment. Suatu rancangan konsep yang baik juga memerlukan ketegasan dan penghargaan terhadap kinerja di unit pelayanan rawat inap.

Dengan bantuan metode ini, dapat dilakukan perancangan konsep dari peningkatan mutu di unit pelayanan rawat inap di RS.

 

Disusun Oleh:

Anggit Tinarbuka AW

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan

BAGIAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Azhary, Emil M. 2009. Potret Bisnis Rumah Sakit Indonesia. Economic Review, No 218, Desember 2009.

Media Data Riset. 2010. Daftar Peraturan Rumah Sakit Di Indonesia, 2010. Jakarta.

Rustiyanto, Ery. 2010. Statistik Rumah Sakit Untuk Pengambilan Keputusan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Suardhika, Ketut N. 2008. Total Quality Management Sebagai Perangkat Manajemen Baru Untuk Optimisasi. Buletin Studi Ekonomi Volume 13 Nomor 1 Tahun 2008.

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..