Tuesday, August 30, 2011

Ucapan Idul Fitri

oleh Anggit Tinarbuka AW



Ucapan :

"Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin"



merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari lebaran baik melalui lisan ataupun kartu ucapan idul fitri. Ada dua kalimat yang diambil dari bahasa arab di sana, yaitu kalimat ke dua dan tiga. Apakah arti kedua kalimat itu? Dari mana asal-usulnya? Sebagian orang kadang cukup mengucapkan minal ‘aidin wal faizin dengan bermaksud meminta maaf. Benarkah dua kalimat yang terakhir memiliki makna yang sama?

Para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqobalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka. Arti kalimat ini adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima.

Jadi kalimat yang ke dua dari ucapan selamat lebaran di atas memang biasa digunakan sejak jaman para Sahabat Nabi hingga sekarang.

Lalu bagaimana dengan kalimat: minal ‘aidin wal faizin? Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin (Ini penulisan yang benar menurut ejaan bahasa indonesia, bukan aidzin,aidhin atau faidzin,faidhin. Kalau dalam tulisan bahasa arab: من العاءدين و الفاءيزين )

Yang pertama sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Id pada Idul Fitri. ‘Id itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini perayaan yang datang setiap tahun. Sementara Al Fitr, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. (Ada juga yang menghubungkan al Fitr dengan Fitrah atau kesucian, asal kejadian)

Faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha, ampunan dan nikmat surga. Sementara kata min dalam minal menunjukkan bagian dari sesuatu.

Sebenarnya ada potongan kalimat yang semestinya ditambahkan di depan kalimat ini, yaitu ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita).

Jadi, selengkapnya kalimat minal ‘aidin wal faizin bermakna (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah). Jelaslah, meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, ia tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.

Wallahu a’lam.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, TAQOBALALLAHU MINNA WA MINKUM, SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM, JA’ALANALLAAHU MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN, AMIN…

Sumber Referensi:

http://www.paidjo.web.id/informasi/arti-minal-%E2%80%98aidin-wal-faizin-bukan-mohon-maaf-lahir-batin

Saturday, August 27, 2011

Seputar Idul Fitri

oleh Anggit Tinarbuka AW



Ada beberapa hal yang dicontohkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya dalam hal ini Shalat ‘Iedul fitri , di antaranya:



Mandi Sebelum ‘Ied

 

Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia). Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

 

Makan Sebelum Berangkat Shalat 'Ied

 

Disunnahkan makan sebelum melaksanakan sholat ‘Iedul Fitri. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rosululloh mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

 

Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya

 

Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Alloh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.

 

Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.” [Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, 1/425.]

 

Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya

 

Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

 

Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied

 

Dalam suatu riwayat disebutkan : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” [Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih.]

 

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).” [Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/279). Hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ (3/123)]

 

Di antara lafazh takbir adalah,

 

“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)”

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar“, itu juga diperbolehkan.

 

Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied

 

Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.

 

Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas (yang ketika itu masih kecil) pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab, “Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.” [HR. Bukhari no. 977.]

 

Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat

 

Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“ [HR. Ibnu Majah no. 1295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

 

Tuntunan Sebelum Shalat ‘Ied




1. Waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar  yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”

2. Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat shalat seperti praktek Ibnu ‘Umar. Lalu berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Zaadul Ma’ad, 1/425)

4. Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri (HR. Ahmad, hasan).

5. Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied (As Silsilah Ash Shahihah no. 171).

6. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda (HR. Bukhari).

7. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat (HR. Ibnu Majah, hasan).

8. Tidak ada shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah ‘ied (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi. (Zaadul Ma’ad)

 

Tata Cara Shalat ‘Ied




Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.

1. Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.

2. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/ tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.

3. Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”

4. Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua.

5. Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dan seterusnya).

6. Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.

7. Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.

8. Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar. Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya (Lihat Zaadul Ma’ad dan Shahih Fiqh Sunnah). Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied atau tidak (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, shahih).

 

Sumber Referensi:

http://muslim.or.id/ramadhan/menyabut-hari-fithri.html

Note Facebook dari saudara Muhammad Iqbal Masruri

Tuesday, August 23, 2011

Kecintaan Ali yang Sejati



kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,

maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,

pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:

selamanya memberi yang bisa kita berikan,

selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

-M. Anis Matta-

 

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

 

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

 

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

 

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

 

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

 

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

 

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

 

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

 

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

 

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

 

 

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

 

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

 

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.

 

”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

 

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

 

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

 

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

 

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

 

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.

Ya, menikahi.

 

Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

 

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

 

 

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

 

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

 

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

 

”Entahlah..”

 

”Apa maksudmu?”

 

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

 

satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

 

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

 

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.

 

Yang pertama adalah pengorbanan.

Yang kedua adalah keberanian.

 

Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

 

Jalan Cinta Para Pejuang

By. Ust. Salim A. Fillah

 

Sumber Referensi:

Note Facebook saudari Ratna Kusumasari


Study ke Luar Negeri dan Peran Organisasi Mahasiswa dalam Pembekalan Kadernya

Mengejar pendidikan luar negeri



Kuliah di luar negeri mungkin adalah dambaan bagi seluruh orang di Indonesia. Apalagi kuliah di negara yang mempunyai kualitas pendidikan tingkat atas dunia, seperti amerika dan eropa. Di abad ke-21 ini, memang kualitas pendidikan di negara-negara tersebut jauh diatas negara kita sendiri. Beragam alasan mengapa orang Indonesia saling berebut kursi untuk bisa kuliah sampai ke luar negeri. Mulai dari kualitas pendidikan di luar negeri masih dianggap diatas pendidikan didalam negeri, prestice lulusan luar negeri lebih tinggi dibandingkan luar negeri, gaji lulusan luar negeri lebih tinggi jika bekerja didalam negeri, dan mungkin ingin mencari kepuasan pribadi. Beragama alasan dan motif. Pun, Tidak hanya mereka yang bekerja sebagai dosen maupun peneliti saja yang berlomba untuk mengejar gelar dari luar negeri, banyak pula dari mereka kalangan swasta yang ingin mendapatkannya. Pendidikan luar negeri memang masih menjadi barang mewah sekaligus prestisius bagi masyarakat Indonesia.


Persoalan menimba ilmu, keutamaan orang yang berilmu, dan dorongan agama bagi umatnya untuk menuntut ilmu bertebaran di dalam Al-Quran maupun hadis rasul. Ada sebuah hadis nabi-meski dianggap kurang shahih oleh banyak ulama-mengatakan bahwa rosul pernah bersabda "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China". Saat itu, rasullullah telah memotivasi sahabat-sahabatnya untuk menimba ilmu seluas-luasnya meskipun sampai jauh sekalipun. Ada pula ungkapan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang-orang yang berilmu beberapa derajad. Sebagai seorang muslim, memang sewajibnyalah kita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dalam hal ini, tidak sekedar ilmu dunia tentunya, melainkan juga adalah ilmu agama, untuk bekal dunia dan akhirat.

Nah, itu lah pula yang sedikit mengilhami saya untuk mempunyai keinginan melanjutkan study sampai level setinggi-tingginya. Semoga ya ALLAH, Amin. Saya memimpikan saat wisuda undergraduate degree nanti, saya sudah diterima di graduate student di luar negeri. Setelah beberapa bulan wisuda, saya bisa segera terbang ke luar negeri untuk melanjutkan ke jenjang master. Semoga, Amin.

Bermula dari milist para pemburu beasiswa ke Jepang

#Beberapa penjelasan dan tips



Saya beberapa hari ini sedang sering menengok sebuah komunitas milist yang berisikan berbagai macam informasi bagaimana mendaftar study lanjut ke Jepang. Anggota milist ini beragam, mulai dari usia, bidang study, hingga profesi. Beberapa pengalaman dan cerita serta pertanyaan yang di-share kan oleh anggota milist semakin membukakan wawasan saya tentang berbagai macam hal mengenai "applying gratuade degree". Semakin banyak tau, semakin saya sadar bahwa mengejar pendidikan ke luar negeri memang bukan perkara yang mudah, terutama bagi mereka yang ingin menggunakan jasa beasiswa. Ada beberapa kata kunci untuk mengatasai berbagai macam kendala yang sering disebutkan oleh anggota milist, ini menurut sang moderator yaitu bermental baja, kerja keras dan pantang menyerah.

Saat bertemu dengan sang moderator milis-yang ternyata adalah mahasiswa Ph.D di University of Tokyo, beliau menjelaskan langkah-langkah apply sekolah ke Jepang. Beliau mengatakan bahwa banyak jalan dan cara untuk mendapatkan kesempatan belajar di Jepang. Cara yang pertama: mencari beasiswa dari lembaga atau yayasan pemberi beasiswa ke Jepang terlebih dahulu sebelum melamar ke Universitas atau sensei yang sesuai dengan minat. Beasiswa Mambusho salah satunya. Beasiswa ini dibuka setiap tahun, dan merupakan beasiswa kerjasama antara pemerintah Jepang dan Indonesia (G to G), maupun antar universitas di Indonesia dengan di Jepang (U to U). Setiap tahun, beribu-ribu orang yang melamar beasiswa ini, sedangkan yang diterima menurut sang moderator hanya sekitar 60-an orang#beliau penerima beasiswa Manbusho untuk Ph.D, he must be very lucky and smart too. Bisa dibayangkan kan betapa sulitnya diterima di beasiswa ini. Cara yang kedua: menghubungi langsung professor/sensei yang sesuai minat study kita dan meminta beliau untuk menerima kita sebagai bimbingan di laboratorium beliau. Cara kedua ini, yang sepertinya tidak banyak pesaing, namun tetap dibutuhkan usaha keras agar sampai diterima. Melalui cara ini, kita harus sering-sering mencari link sensei dan mengiriminya surat lamaran berserta CV dan proposal research. Karena karakter setiap sensei berbeda-beda, jadi sepertinya cara ini ada unsur "untung-untungan". Tapi seharusnya, wajib terus dicoba sampai mendapatkan balasan email dari sang sensei "Ok. I will consider you as my student". Asyeekkkk. Saya sedang mencoba cara kedua ini, dan cara ini pula yang sering saya tanyakan di forum milist kepada moderator.

Menurut moderator, pada saat menulis surat lamaran baik via email maupun Ms.word ke sensei, kita juga harus menyertakan CV dan research proposal S2 atau S3 kita. Nah, disinilah saya mulai bimbang, karena saya belum menyelesaikan S1, jadi proposal research S2 pun saya belum punya. Kalau surat lamaran dan CV masih bisa saya kejar, tapi kalau proposal reserach S2?hemm, gimana ya?Belum kepikiran sama sekali.Tapi tenang, jangan khawatir, mungkin saja tidak terlalu masalah jika saya belum punya reserch proposal S2, karena mungkin saya bisa apply ke lab seorang sensei untuk meminta menjadi research asistant, sembari nanti membantu research, saya bisa memilih topic untuk master.

Karena, komunikasi kita bisanya cuma lewat email atau surat elektronik, maka bagaimanapun juga tingkat kesopanan harus dinomor satukan. Kesopanan disini khususnya meliputi tata bahasa yang kita gunakan kepada sensei. Bahasa inggris kita harus benar-benar perfect, jangan ada yang error, apalagi slank. Selain tata bahasa yang benar, bahasa yang kita gunakan harus bisa menarik dan mendatangkan impression kepada sang sensei. Misal dengan bahasa yang rendah hati, menyanjung, dan lembut. Sebelum dikirim ke sensei, ada baiknya jika surat lamaran dan berkas2 diperiksan dulu kepada senior yang lebih jago.

Selain surat lamaran, CV juga berpengaruh#kata sang moderator. Karena dari CV yang kita lampirkan professor bisa tahu pribadi seperti apa dan potensi apa yang kita miliki. CV sebaiknya berisikan informasi akademik saja, seperti riwayat pendidikan, publikasi, prestasi, dan program komputer yang dikuasasi. Riwayat organisasi sepertinya tidak cukup membantu dalam hal ini, hehe. Nah, demikian itu yang bisa saya share agar kalian yang membaca tulisan ini dapat mempersiapkan diri jika ingin kuliah ke luar negeri.

*Sejauh mana organisasi kampus membekali kadernya dengan kemampuan seperti diatas?

Setelah saya renungkan beberapa waktu ini, entah benar atau tidak, saya merasa bahwa jika kita hanya berkutat dengan organisasi di BEM, HMJ, dan SM, maka kita tidak akan pernah mendapatkan keahlian di bidang research dan akademik selain keahlian softskill. Saya sedikit miris jika melihat adek-adek kelas, pekerjaan utama di BEM-nya hanya ikut rapat-rapat saja. Kerjaannya rapat, rapat, rapat, dan rapat. Hari-harinya hanya diisi dengan rapat, kesana-kemari ngurus proposal, surat, peminjaman tempat, dekor ruangan. Hanya untuk sebuah event. Biasanya aktivis BEM di curiculum vitae yang mereka buat, pasti sangat minim daftar karya tulis/ilmiah nyat. Padahal jika ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, justru pengalaman tulis-menulis menjadi faktor yang sangat menentukan, meskipun tidak dinafikan bahwa riwayat organisasi akan sedikit mendukung. Sering kali, saya lihat, aktivis kampus yang hanya berkutat di dunia sosial politik kampus, mempunyai kemampuan menulis ilmiah dan scientific yang rendah. Sebaiknya, jangan hanya berkutat pada rapat dan penyelenggaraan event saja jika ingin menjadi aktivis kampus yang Complete dan prestatif. Sertai dengan kegiatan-kegiatan kompetitif lainnya, seperti lomba menulis, debat, maupun aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya. Karena, sejatinya jika direnungkan, terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita terlalu disibukan dengan event dan rapat organisasi dibandingkan dengan pengembangan kemampuan prestatif diri. Karenanya, jadilah aktivis kampus yang complete, kompetitif, dan prestatif.

Akan jauh lebih baik jika kita tidak hanya pandai dalam memimpin rapat dan beretorika semata, melainkan kita bisa menjadi aktivis kampus yang rajin membaca, menulis, mengikuti perlombaan dan terjun di kegiatan sosial kemasyarakatan. Untuk menumbuhkan budaya scientific dan prestatif dalam budaya organisasi kampus, dibutuhkan peran seorang senior atau pimpinan organisasi. Penumbuhan nilai, budaya, dan norma didalam internal organisasi sejatinya dipegang oleh para senior atau pimpinan organisasi. Mahasiswa di tingkat 3 (semester5), seharusnya sudah mempunyai kemampuan untuk seperti itu. Sudahkah kita (organisasi mahasiswa) mampu membentuk kader seperti itu?dan Adakah kader yang kita punya sudah menjadi seperti itu?Atau kah sebatas membentuk kader yang cuma jago ngomong dan rapat?

Pada dasarnya, karakter kader yang ingin dibentuk dalam sebuah organisasi-seperti organisasi mahasiswa-berada di tangan para pengurusnya sendiri. Sekedar ingin organisasi-organisasian atau kah memang ingin menjadi kader yang berintelektual tinggi, tergantung juga pada kemauan diri kita sendiri. Akan sangat jauh lebih baik lagi, jika organisasi pun mewadahinya, sehingga level intelektualitas kader yang tinggi tidak hanya dicapai oleh satu-dua orang saat menjadi pimpinan, melainkan dicapai oleh seluruh kader bahkan ditahun pertamanya masuk organisasi mahasiswa. Ini PR kita semua kawan-kawan.


Sumber Referensi:

http://pancagarden.blogspot.com/2011/08/pengembangan-scientific-dan-prestatif.html