Tuesday, August 23, 2011

Study ke Luar Negeri dan Peran Organisasi Mahasiswa dalam Pembekalan Kadernya

Mengejar pendidikan luar negeri



Kuliah di luar negeri mungkin adalah dambaan bagi seluruh orang di Indonesia. Apalagi kuliah di negara yang mempunyai kualitas pendidikan tingkat atas dunia, seperti amerika dan eropa. Di abad ke-21 ini, memang kualitas pendidikan di negara-negara tersebut jauh diatas negara kita sendiri. Beragam alasan mengapa orang Indonesia saling berebut kursi untuk bisa kuliah sampai ke luar negeri. Mulai dari kualitas pendidikan di luar negeri masih dianggap diatas pendidikan didalam negeri, prestice lulusan luar negeri lebih tinggi dibandingkan luar negeri, gaji lulusan luar negeri lebih tinggi jika bekerja didalam negeri, dan mungkin ingin mencari kepuasan pribadi. Beragama alasan dan motif. Pun, Tidak hanya mereka yang bekerja sebagai dosen maupun peneliti saja yang berlomba untuk mengejar gelar dari luar negeri, banyak pula dari mereka kalangan swasta yang ingin mendapatkannya. Pendidikan luar negeri memang masih menjadi barang mewah sekaligus prestisius bagi masyarakat Indonesia.


Persoalan menimba ilmu, keutamaan orang yang berilmu, dan dorongan agama bagi umatnya untuk menuntut ilmu bertebaran di dalam Al-Quran maupun hadis rasul. Ada sebuah hadis nabi-meski dianggap kurang shahih oleh banyak ulama-mengatakan bahwa rosul pernah bersabda "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China". Saat itu, rasullullah telah memotivasi sahabat-sahabatnya untuk menimba ilmu seluas-luasnya meskipun sampai jauh sekalipun. Ada pula ungkapan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang-orang yang berilmu beberapa derajad. Sebagai seorang muslim, memang sewajibnyalah kita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dalam hal ini, tidak sekedar ilmu dunia tentunya, melainkan juga adalah ilmu agama, untuk bekal dunia dan akhirat.

Nah, itu lah pula yang sedikit mengilhami saya untuk mempunyai keinginan melanjutkan study sampai level setinggi-tingginya. Semoga ya ALLAH, Amin. Saya memimpikan saat wisuda undergraduate degree nanti, saya sudah diterima di graduate student di luar negeri. Setelah beberapa bulan wisuda, saya bisa segera terbang ke luar negeri untuk melanjutkan ke jenjang master. Semoga, Amin.

Bermula dari milist para pemburu beasiswa ke Jepang

#Beberapa penjelasan dan tips



Saya beberapa hari ini sedang sering menengok sebuah komunitas milist yang berisikan berbagai macam informasi bagaimana mendaftar study lanjut ke Jepang. Anggota milist ini beragam, mulai dari usia, bidang study, hingga profesi. Beberapa pengalaman dan cerita serta pertanyaan yang di-share kan oleh anggota milist semakin membukakan wawasan saya tentang berbagai macam hal mengenai "applying gratuade degree". Semakin banyak tau, semakin saya sadar bahwa mengejar pendidikan ke luar negeri memang bukan perkara yang mudah, terutama bagi mereka yang ingin menggunakan jasa beasiswa. Ada beberapa kata kunci untuk mengatasai berbagai macam kendala yang sering disebutkan oleh anggota milist, ini menurut sang moderator yaitu bermental baja, kerja keras dan pantang menyerah.

Saat bertemu dengan sang moderator milis-yang ternyata adalah mahasiswa Ph.D di University of Tokyo, beliau menjelaskan langkah-langkah apply sekolah ke Jepang. Beliau mengatakan bahwa banyak jalan dan cara untuk mendapatkan kesempatan belajar di Jepang. Cara yang pertama: mencari beasiswa dari lembaga atau yayasan pemberi beasiswa ke Jepang terlebih dahulu sebelum melamar ke Universitas atau sensei yang sesuai dengan minat. Beasiswa Mambusho salah satunya. Beasiswa ini dibuka setiap tahun, dan merupakan beasiswa kerjasama antara pemerintah Jepang dan Indonesia (G to G), maupun antar universitas di Indonesia dengan di Jepang (U to U). Setiap tahun, beribu-ribu orang yang melamar beasiswa ini, sedangkan yang diterima menurut sang moderator hanya sekitar 60-an orang#beliau penerima beasiswa Manbusho untuk Ph.D, he must be very lucky and smart too. Bisa dibayangkan kan betapa sulitnya diterima di beasiswa ini. Cara yang kedua: menghubungi langsung professor/sensei yang sesuai minat study kita dan meminta beliau untuk menerima kita sebagai bimbingan di laboratorium beliau. Cara kedua ini, yang sepertinya tidak banyak pesaing, namun tetap dibutuhkan usaha keras agar sampai diterima. Melalui cara ini, kita harus sering-sering mencari link sensei dan mengiriminya surat lamaran berserta CV dan proposal research. Karena karakter setiap sensei berbeda-beda, jadi sepertinya cara ini ada unsur "untung-untungan". Tapi seharusnya, wajib terus dicoba sampai mendapatkan balasan email dari sang sensei "Ok. I will consider you as my student". Asyeekkkk. Saya sedang mencoba cara kedua ini, dan cara ini pula yang sering saya tanyakan di forum milist kepada moderator.

Menurut moderator, pada saat menulis surat lamaran baik via email maupun Ms.word ke sensei, kita juga harus menyertakan CV dan research proposal S2 atau S3 kita. Nah, disinilah saya mulai bimbang, karena saya belum menyelesaikan S1, jadi proposal research S2 pun saya belum punya. Kalau surat lamaran dan CV masih bisa saya kejar, tapi kalau proposal reserach S2?hemm, gimana ya?Belum kepikiran sama sekali.Tapi tenang, jangan khawatir, mungkin saja tidak terlalu masalah jika saya belum punya reserch proposal S2, karena mungkin saya bisa apply ke lab seorang sensei untuk meminta menjadi research asistant, sembari nanti membantu research, saya bisa memilih topic untuk master.

Karena, komunikasi kita bisanya cuma lewat email atau surat elektronik, maka bagaimanapun juga tingkat kesopanan harus dinomor satukan. Kesopanan disini khususnya meliputi tata bahasa yang kita gunakan kepada sensei. Bahasa inggris kita harus benar-benar perfect, jangan ada yang error, apalagi slank. Selain tata bahasa yang benar, bahasa yang kita gunakan harus bisa menarik dan mendatangkan impression kepada sang sensei. Misal dengan bahasa yang rendah hati, menyanjung, dan lembut. Sebelum dikirim ke sensei, ada baiknya jika surat lamaran dan berkas2 diperiksan dulu kepada senior yang lebih jago.

Selain surat lamaran, CV juga berpengaruh#kata sang moderator. Karena dari CV yang kita lampirkan professor bisa tahu pribadi seperti apa dan potensi apa yang kita miliki. CV sebaiknya berisikan informasi akademik saja, seperti riwayat pendidikan, publikasi, prestasi, dan program komputer yang dikuasasi. Riwayat organisasi sepertinya tidak cukup membantu dalam hal ini, hehe. Nah, demikian itu yang bisa saya share agar kalian yang membaca tulisan ini dapat mempersiapkan diri jika ingin kuliah ke luar negeri.

*Sejauh mana organisasi kampus membekali kadernya dengan kemampuan seperti diatas?

Setelah saya renungkan beberapa waktu ini, entah benar atau tidak, saya merasa bahwa jika kita hanya berkutat dengan organisasi di BEM, HMJ, dan SM, maka kita tidak akan pernah mendapatkan keahlian di bidang research dan akademik selain keahlian softskill. Saya sedikit miris jika melihat adek-adek kelas, pekerjaan utama di BEM-nya hanya ikut rapat-rapat saja. Kerjaannya rapat, rapat, rapat, dan rapat. Hari-harinya hanya diisi dengan rapat, kesana-kemari ngurus proposal, surat, peminjaman tempat, dekor ruangan. Hanya untuk sebuah event. Biasanya aktivis BEM di curiculum vitae yang mereka buat, pasti sangat minim daftar karya tulis/ilmiah nyat. Padahal jika ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, justru pengalaman tulis-menulis menjadi faktor yang sangat menentukan, meskipun tidak dinafikan bahwa riwayat organisasi akan sedikit mendukung. Sering kali, saya lihat, aktivis kampus yang hanya berkutat di dunia sosial politik kampus, mempunyai kemampuan menulis ilmiah dan scientific yang rendah. Sebaiknya, jangan hanya berkutat pada rapat dan penyelenggaraan event saja jika ingin menjadi aktivis kampus yang Complete dan prestatif. Sertai dengan kegiatan-kegiatan kompetitif lainnya, seperti lomba menulis, debat, maupun aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya. Karena, sejatinya jika direnungkan, terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita terlalu disibukan dengan event dan rapat organisasi dibandingkan dengan pengembangan kemampuan prestatif diri. Karenanya, jadilah aktivis kampus yang complete, kompetitif, dan prestatif.

Akan jauh lebih baik jika kita tidak hanya pandai dalam memimpin rapat dan beretorika semata, melainkan kita bisa menjadi aktivis kampus yang rajin membaca, menulis, mengikuti perlombaan dan terjun di kegiatan sosial kemasyarakatan. Untuk menumbuhkan budaya scientific dan prestatif dalam budaya organisasi kampus, dibutuhkan peran seorang senior atau pimpinan organisasi. Penumbuhan nilai, budaya, dan norma didalam internal organisasi sejatinya dipegang oleh para senior atau pimpinan organisasi. Mahasiswa di tingkat 3 (semester5), seharusnya sudah mempunyai kemampuan untuk seperti itu. Sudahkah kita (organisasi mahasiswa) mampu membentuk kader seperti itu?dan Adakah kader yang kita punya sudah menjadi seperti itu?Atau kah sebatas membentuk kader yang cuma jago ngomong dan rapat?

Pada dasarnya, karakter kader yang ingin dibentuk dalam sebuah organisasi-seperti organisasi mahasiswa-berada di tangan para pengurusnya sendiri. Sekedar ingin organisasi-organisasian atau kah memang ingin menjadi kader yang berintelektual tinggi, tergantung juga pada kemauan diri kita sendiri. Akan sangat jauh lebih baik lagi, jika organisasi pun mewadahinya, sehingga level intelektualitas kader yang tinggi tidak hanya dicapai oleh satu-dua orang saat menjadi pimpinan, melainkan dicapai oleh seluruh kader bahkan ditahun pertamanya masuk organisasi mahasiswa. Ini PR kita semua kawan-kawan.


Sumber Referensi:

http://pancagarden.blogspot.com/2011/08/pengembangan-scientific-dan-prestatif.html

1 comment:

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..