Tuesday, September 6, 2011

Menjaga Kebaikan dalam Makanan

oleh Anggit Tinarbuka AW


“Hai rasul-rasul makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal salih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mu’minuun 23 : 51)



Segala puji bagi Allah atas segala karunianya kepada setiap hamba-hamba dan seluruh makhluk Nya di dunia dan akhirat. Segala syukur juga seyogyanya diagungkan pada setiap umat muslimin atas karunia Islam yang dibawa bersama Rasulullah SAW, yang senantiasa kita nantikan syafaat nya di hari kiamat nanti. Karena sesungguhnya dengan syafaat yang nanti diberikan kepada yang Allah kehendakilah kita menjadi pribadi-pribadi yang beruntung atas syafaat tersebut pada hari dimana segala macam perlindungan, pertolongan dan syafaat ditolak selain dari Nya.


“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (QS Al Baqarah 2 : 48)


Atas ijin dan rahmat Allah, kita sebagai umat Islam tidak perlu keraguan maupun kekhawatiran dalam beramal serta beribadah. Telah dianugerahkan kepada umat muslim Al Quran dan Al Hadits yang menjadi pedoman kita hidup didunia ini. Segala aspek kehidupan ini telah terdapat petunjuknya termasuk kaitannya dengan makan dan kuliner.


Dari kutipan salah satu ayat Al Quran di awal menunjukkan bahwa aspek makanan merupakan hal yang penting juga untuk diperhatikan bagi kaum muslimin. Secara langsung Allah menyuruh rasul-rasulNya untuk memperhatikan makanan yang dimakannya. Allah menciptakan bumi seisinya untuk kesenangan umat manusia, tetapi tidak semuanya baik sehingga hanya makanan yang baiklah yang memang baik.


Makanan merupakan sebuah nikmat. Dengannya lah kita dapat kesenangan, kepuasan, kemanfaatan serta kekuatan untuk menjalani hidup. Begitupula kebalikannya, jika kita terlalu berlebihan dalam kesenangan dan kepuasannya maka membawa hal yang tidak baik pula. Oleh karena itu selain petunjuk tentang makan juga terdapat petunjuk dalam berpuasa bagi umat muslim sebagai penjaga hawa nafsunya. Berlebihan dalam makanan juga dianggap tidak baik, jadi yang dimaksud perintah makan dari makanan yang baik-baik dimensinya luas. Yaitu baik dari segi zat / makanannya, baik dari segi mendapatkannya, baik dari segi mengolahnya maupun baik dari segi menikmatinya.


Memang Allah lah Yang Maha Mengetahui. Anjuran memakan makanan yang baik ini, dikaji dan dikaitkan dengan bidang kesehatan, begitu besar maknanya. Makanan yang baik akan memberikan nutrisi yang baik saat diserap oleh tubuh. Sehingga menjadikan tubuh lebih segar, sehat, merangsang pertumbuhan dan perkembangan segala sel di jaringan dan organ tubuh. Selain itu juga memberi kekebalan terhadap tubuh sebagai bentuk pertahanan dari berbagai penyakit. Makanan-makanan yang baik ini juga membangun kecerdasan akal dan pikiran. Dengan makanan yang baik ini menjadikan pribadi menjadi baik sehingga membentuk kelompok masyarakat yang baik, bangsa yang baik serta umat yang baik. Dalam bidang psikologi pun dapat diketahui bahwa makanan yang baik akan memberikan perasaan yang baik, semangat dan pikiran yang baik.


Dalam menjaga makanan kita, tidaklah perkara yang mudah karena banyaknya ragam dan budaya makanan yang hadir di masyarakat Islam saat ini. Tetapi juga bukan merupakan hal yang sulit jika kita benar-benar berniat dan berusaha dalam menjaganya.


“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah 2 : 168)


Agar tidak terjebak dalam bentuk kesenangan berkuliner ini, cara yang bisa kita lakukan adalah meniru sifat makan Rasulullah SAW. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau kecuali makanan tersebut halal dan toyyib (baik). Rasululloh juga selalu makan dengan tenang dan tuma’ninah. Cara tersebut membuat sistem organ pencernaan menjadi lebih ringan dan berjalan sempurna.


Hal yang perlu diketahui pula dalam upaya menjaga diri dari makanan-makanan yang baik-baik adalah bahwasanya para sahabat dan ulama-ulama sangat berhati-hati dalam hal makanan mereka. Apabila sedikit saja makanan yang dimakan mengandung ketidak halalan di dalamnya, maka tidak segan-segan untuk ditinggalkan maupun dibuang. Dari makanan yang baik itu akan tumbuh menjadi daging yang baik pula, sehingga baik seluruh tubuh. Dan dari makanan yang haram akan menjadi sebab tertolaknya terkabulnya doa dan tertolaknya diterimanya amal ibadah selama 40 hari. Semoga kita diberikan petunjuk serta kemudahan dari Allah untuk bisa menghindarinya. Amin


 


Sumber Referensi:


Al Qur'anur Kariim


Buku Kuliner Islami

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..