Thursday, August 2, 2012

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Dua

oleh Anggit Tinarbuka AW


Beberapa ayat maupun hadits tentang keutamaan sedekah yang dilakukan oleh seorang hamba Allah beserta faedah-faedahnya telah disebutkan ditulisan sebelumnya. Namun masih banyak lagi nasihat-nasihat tentang sedekah yang diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW yang patut kita ketahui sehingga menjadikan kita lebih termotivasi untuk mengeluarkan apapun sedekah kita.


Dari abu hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata air itu mengalir di sebuah tempat dimana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah SWT, sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (HR. Muslim)


Nabi SAW bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau SAW menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘Alaih)


“Bershadaqah pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat.” (HR. Al Hakim)


Dari Uqbah bin Harits r.a., “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi SAW di madinah munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau SAW. Ketika rasulullah SAW keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR. Bukhari)


Allah SWT berfirman (dalam hadits qudsi): “Hai anak adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)


“Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (HR. Bukhari)


Seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, “Shadaqah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bershadaqah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu ditenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)


“Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR. Ahmad)


“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (shadaqah) sebutir kurma.” (Muttafaq ‘Alaih)


“Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershadaqah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. Ath Thabrani)


“Tiada seorang bershadaqah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)


 

Sumber Referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits

Hadits Qudsi

Ypuarrukh.wordpress.com

 

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Satu

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Dua

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Satu

oleh Anggit Tinarbuka AW

Sedekah adalah menyisihkan sebagian harta benda yang kita miliki untuk dibagikan kepada orang lain yang membutuhkannya. Siapa saja yang bisa menjalankan sedekah dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan balasan yang didapatkan bisa berkali-kali lipat lebih baik.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah [2]:267)


“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:261)


“Barangsiapa yang menginfaqkan kelebihan hartanya di jalan Allah SWT maka Allah akan melipatgandakan dengan tujuh ratus (kali lipat). Dan barangsiapa yang berinfaq untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali  lipatnya. Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).” (HR. Ahmad)


“Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi sedekah.” (HR. Ibnu Majah)


“Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali maka perbanyaklah kuah dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Tirmidzi)


Abu hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda,


“Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, “Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfaqkan hartanya.” Kemudian malaikat yang satu berkata, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih)


Dari Abu Umamah r.a., sabda Nabi SAW,


“Wahai anak adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Muslim)


Sabda Nabi lainnya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., pernah seseorang bertanya kepada Nabi SAW,

“Ya Rasulullah sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah SAW bersabda, “ Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sekian padahal harta itu telah menjadi miliki si Fulan (ahli waris).” (HR. Bukhari Muslim)


“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya).” (HR.Muslim)


 

Sumber Referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits

Hadits Qudsi

Ypuarrukh.wordpress.com

 

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Satu

Hebatnya Sedekah (Kumpulan Dalil Tentang Sedekah) Bag. Dua

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Ketiga (Seputar Shalat Hajat)

oleh Anggit Tinarbuka AW

Pada tulisan ketiga ini akan dibahas tentang shalat hajat setelah kita mengetahui keutamaan berdoa di bulan ramadhan serta adab dalam berdoa. Anjuran tentang meminta permohonan melalui shalat sebagaimana yang Allah firmankan dalam ayat ini.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2]:153)


Dinamakan shalat hajat karena shalat ini dilakukan untuk memohon kepada Allah agar hajatnya atau doa nya dikabulkan. Shalat hajat termasuk dalam shalat sunnah ghairu rawatib. Adapun shalat sunnah ghairu rawatib ini ada tiga yaitu [1] shalat lail (malam), [2] shalat dhuha, dan [3] shalat tarawih. Dari ketiga di atas shalat hajat ini termasuk kedalam kelompok shalat malam berdasarkan tidak disunnahkannya dilakukan secara berjamaah. Shalat hajat sama seperti shalat sunnah lainnya yang dapat dilakukan di rumah.

“Jadikanlah tempat pelaksanaan sebagian shalatmu di rumah-rumah kalian, dan jangan lah jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.” (diriwayatkan oleh Ibnu Umar)


Shalat hajat memiliki banyak keutamaan karena selain untuk memperoleh pahala, juga sebagai sarana mengajukan permohonan dan mendekatkan diri pada Allah.

“Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau memiliki kebutuhan kepada seseorang, hendaklah ia berwudhu dengan baik dan sempurna. Kemudian shalat dua rakaat seraya memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.”


Memang biasanya shalat hajat dilakukan pada malam hari walaupun tidak ada larangan dilakukan di siang hari. Sehingga shalat hajat dapat dikerjakan pada setiap waktu baik pagi, siang ataupun malam yang terpenting tidak pada waktu-waktu diharamkannya melakukan shalat, yaitu setelah waktu subuh dan ashar. Akan tetapi tentu lebih utama dilakukan di sepertiga malam yang terakhir agar supaya lebih khusyuk dalam beribadah.

“Pada malam hari, ada satu waktu di mana seorang hamba tidak (berdzikir) tepat pada saat itu meminta kepada Allah SWT akan kebaikan dunia dan akhirat, melainkan Allah akan memberinya, dan itu terjadi setiap malam.” (diriwayatkan oleh Jabir r.a.)


Shalat hajat dapat dikerjakan seperti shalat sunnah lainnya yaitu minimal dengan dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat. Dalam pengerjaannya biasanya dilakukan dengan dua rakaat salam. Banyak sedikitnya rakaat shalat hajat tergantung kepada orang yang mengerjakannya.

“Barangsiapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat dengan sempurna, maka Allah memberi apa saja yang ia minta, baik dengan segera atau lambat.” (diriwayatkan oleh Abu Darda’)


Saudaraku sekalian, kiranya sekian tentang keutamaan shalat hajat yang dapat disampaikan. Semoga dengan pengetahuan yang sedikit ini semakin membuat kita ingin lebih tau banyak sehingga lebih banyak mempelajari tentang ilmu Allah. Dan sebaik-baiknya ilmu tentu disertai amalannya, sehingga jangan menunggu lama untuk kita memulai suatu amalan ibadah.

Adapun untuk tata cara dilaksanakannya shalat Hajat insyaallah akan dituliskan kemudian. Semoga menjadi manfaat untuk saya dan saudaraku sekalian. Amin

 

Sumber referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits Arba’in An Nawawi

Hadits Qudsi

Riyadhus Shalihin

Panduan Shalat Hajat

 

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Pertama (Keutamaan Berdoa di Bulan Ramadhan)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Kedua (Adab dalam Berdoa)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Ketiga (Seputar Shalat Hajat)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Kedua (Adab dalam Berdoa)

oleh Anggit Tinarbuka AW

Telah dijelaskan di tulisan sebelumnya akan istimewanya memohon dan berdoa di bulan ramadhan. Akan tetapi jangan khawatir kalau pada bulan-bulan lainnya kita tidak  bisa memanjatkan doa seperti di bulan ramadhan. Ramadhan menjadi begitu spesial karena dimuliakannya bulan ini begitu pula bulan-bulan haram lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwasanya Allah senang kepada hambaNya yang memohon kepadaNya serta tidak suka apabila hambaNya tidak memohon padaNya. Sehingga kapanpun waktunya itu tidak menjadi penghalang bagi kita untuk memohon kepada Allah SWT.

“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah pun murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi)


Saudaraku sekalian, sesungguhnya kekuatan doa sangatlah besar. Apabila Allah memperkenankan / menghendaki maka jadilah “Kun Fayakun”. Perlu kita ketahui bersama bahwa hakikat seseorang yang berdoa dan memohon kepada Allah, sesungguhnya orang tersebut telah meyakini bahwa hanya kepada Allah lah kita bergantung, hanya kepada Allah lah kita meminta dan memohon serta mengakui Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan hanya Allah Rabb kita. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin Allah tidak mengabulkan doa hambaNya yang mengakui dan memujinya.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al Mu’min [40]:60)


“Doa itu adalah otaknya ibadah” (HR. Ibnu Hibban dan Tirmidzi)


Dalam bahasan tentang doa lainnya, disebutkan bahwa terdapat syarat terkabulnya doa, baik itu tempat-tempat yang lebih utama dikabulkan doa, waktu-waktu yang lebih utama, orang-orang yang diterima doa nya serta syarat-syarat lain.

Adapun tempat-tempat yang lebih utama adalah [1] di masjidil haram dan masjid nabawi ataupun di [2] masjid-masjid lainnya; [3] di pojok Hajar Aswad; [4] di Hijr Isma’il; [5] di sumur zam-zam; [6] di bukit Shofa dan Marwah; [7] di padang Arafah; [8] dalam majlis-majlis dzikir, dll.

Adapun waktu-waktu yang lebih utama yaitu [1] di sepertiga malam yang terakhir; [2] sehabis shalat fardhu; [3] waktu antara azan dan iqamah; [4] ketika shalat hajat; [5] ketika sujud; [6] waktu antara khutbah pertama dan kedua shalat jum’at; [7] pada hari jum’at; [8] pada saat berpuasa dan berbuka; [9] pada saat bepergian; [10] pada malam lailatul qadr, [11] saat mengkhatamkan Al Quran; [12] pada hari Arafah; [13]  pada bulan Ramadhan; [14] saat hujan turun, dll.

"Ada dua macam doa yang tidak akan ditolak atau sedikit sekali ditolaknya, yaitu doa ketika ada panggilan shalat - yakni antara azan dan iqamah - dan pula doa ketika berkecamuknya peperangan, yakni di waktu sebagian yang bertempur itu bergulat dengan sebagian lainnya."


Adapun orang-orang yang diterima doa nya adalah [1] orang yang teraniaya; [2] orang yang berpuasa; [3] orang yang miskin; [4] orang yang mendoakan orang lain; [5] orang yang menangis dalam doa nya, [6] orang yang sedang dalam bepergian; [7] doa orangtua terhadap anaknya, dll.

“Ada tiga doa yang tidak ragu-ragu lagi dikabulkan. Doa orang yang teraniaya, doa orang yang bepergian, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)


Adapun syarat-syarat diterimanya doa adalah dalam [1] tempat dan waktu yang baik; [2] dalam keadaan suci; [3] tidak makan atau minum yang haram; [4] yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah; [5] tidak untuk dosa; [6] bertaqwa kepada Allah; [7] dengan rendah hati dan suara lembut; [8] sabar dan mengerjakan shalat; [9] tidak tergesa-gesa dalam doa nya, dll.

"Akan dikabulkanlah sesuatu doa bagi seseorang di antara engkau semua, selama ia tidak tergesa-gesa" (Muttafaq 'alaih)


Kemudian, selain dikabulkannya permohonan dan harapan seorang hamba, doa juga memiliki faedah bagi kita. Diantaranya adalah [1] Dapat membuka pintu rahmat; [2] dapat menolak bencana; [3] memberi manfaat; [4] memudahkan datangnya rizki; [5] menolak ketetapan Allah, dll.

Rasulullah SAW bersabda,

“Doa itu dapat membuka pintu rahmat.” (HR. Dailamie)


“Doa itu dapat menolak bencana.” (HR. Abu Syaikh)


“Dan sesungguhnya doa itu dapat memberi manfaat kepada yang telah diturunkan dan kepada yang belum diturunkan. Dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah kecuali doa. Karena itu berdoalah kamu.” (HR. Tirmidzi)


Selain itu faedah / manfaat dari doa lainnya ialah [6] membuat hati menjadi tentram; [7] penyembuh berbagai penyakit; [8] pengantar kebahagiaan dunia akhirat; [9] penghubung sesama sahabat; [10] penghubung antara orang tua dan anak; [11] penghubung anak dan orangtua yang telah meninggal, dll.

Untuk penjelasan maupun dalil dari faedah doa di atas dapat dilihat di surat-surat Al Quran, Ar Ra’du ayat 28, Yunus ayat 57 dan Al Baqarah ayat 201.

Dengan mengetahui dan mengikuti adab dalam berdoa semoga semakin memotivasi saudaraku sekalian untuk senantiasa berdoa dan berdzikir kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mendengar.

 

Sumber referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits Arba’in An Nawawi

Hadits Qudsi

Riyadhus Shalihin

Panduan Shalat Hajat

 

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Pertama (Keutamaan Berdoa di Bulan Ramadhan)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Kedua (Adab dalam Berdoa)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Ketiga (Seputar Shalat Hajat)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Pertama (Keutamaan Berdoa di BulanRamadhan)

oleh Anggit Tinarbuka AW

Marhaban ya Ramadhan, marhaban ya syahrul maghfirah...

Alhamdulillah pada kesempatan ini kita dapat bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh kebaikan didalamnya. Segala amalan pada bulan ini dilebihkan balasannya begitu pula doa-doa banyak yang dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada tulisan ini mari kita belajar bersama mengenal keagungan dan kebaikan dari shalat Hajat. Tetapi sebelumnya akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pentingnya doa yang berhubungan dengan shalat hajat itu sendiri.

Bertepatan dengan bulan ramadhan seyogyanyalah kita memperbanyak permohonan dan doa kita demi kepentingan duniawi maupun akhirat karena bulan ramadhan memang dikhususkan bagi kita umat Islam.

Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, maka akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar)

Di dalam bulan ramadhan terdapat pula sebuah malam yang begitu agung dimana Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan agar dapat bertemu dengan malam yang disebut malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di malam inilah segala urusan diatur. Sehingga marilah kita memperbanyak ibadah kita agar dapat bertemu dengan malam tersebut.

Dari Aisyah r.a. mengatakan,
“Apabila Nabi S.A.W. memasuki sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para isteri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila kita beribadah di malam tersebut, insyaallah pahalanya akan setara dengan ibadah seribu bulan. Akan tetapi ada hal lain yang patut kita ketahui, bahwasanya doa-doa yang dipanjatkan pada malam itu insyaallah akan diijabahi. Karena pada malam itulah takdir seseorang akan dituliskan kembali di dalam lauful mahfudz untuk setahun yang akan datang. Sehingga apabila kita memiliki harapan dan doa sebaiknya dipanjatkan pada malam tersebut dengan keyakinan bahwa harapan atau doa tersebut juga akan dituliskan dalam takdir kita pada tahun tersebut. Dicontohkan oleh para sahabat maupun ulama-ulama bahwa sebaiknya harapan dan doa kita ini dituliskan dengan jelas dan terukur targetnya. Kemudian di waktu-waktu shalat malam, kita sampaikan “proposal” doa dan harapan kita kepada Allah SWT.
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 3-5)

Semoga ini menjadi bahan renungan dan nasihat bagi kita untuk turut serta menyambut keberkahan dari malam tersebut sebagaimana para pencari kebaikan lakukan.

Saudaraku sekalian, terkabulnya doa merupakan kehendak Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti menjadikan kita turun semangatnya dalam memanjatkan doa karena tahu akan hal ini. Ingat didalam hadist qudsi diterangkan
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah berfirman : "Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu." (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

Oleh karena itu, segala doa yang kita panjatkan sebaiknya disertai keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan baik itu akan dikabulkan segera mungkin, akan ditunda waktunya, akan dikabulkan di akhirat kelak ataupun akan digantikan dengan nikmat-nikmat dari Allah lainnya. Walllahu a’lam.



Sumber referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits Arba’in An Nawawi

Hadits Qudsi

Riyadhus Shalihin

Panduan Shalat Hajat



Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Pertama (Keutamaan Berdoa di Bulan Ramadhan). tinarbuka aw

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Kedua (Adab dalam Berdoa)

Keutamaan Shalat Hajat: Bagian Ketiga (Seputar Shalat Hajat)