Monday, February 25, 2013

Dibalik Kisah Kebaikan Hati Iblis terhadap Manusia





Kisah ini menceritakan salah seorang sahabat di zaman Nabi Muhamnad saw. Jika kita belajar tentang sirah, pasti sahabat ini tidak asing lagi karena beliau juga disebutkan dalam salah satu surah Al Quran yaitu surah ‘Abasa. Beliau adalah Ibnu Umi Maktum. Nama beliau adalah Abdullah. Dan beliau seorang sahabat yang tunanetra. Namun demikian, beliau terkenal sebagai seorang yang gigih keimanan dan keislamannya. Beliau juga pernah diminta oleh Rasulullah saw untuk menjadi wali kota di Madinah menggantikan tugas-tugas kenegaraan beliau.

Sebagai seorang yang tunanetra, Ibnu Umi Maktum ini memiliki ketergantungan kepada bantuan orang lain dalam banyak hal, termasuk sholat jamaah di masjid. Setiap hari, saat akan shalat, beliau selalu berangkat bersama seorang sahabat. Hal tu berlangsung lama, sampai Allah menakdirkan sahabat yg selalu menemani beliau ke masjid meninggal. Setelah sang pengantar meninggal, Ibnu Umi Maktum menemui kesulitan untuk ke masjid, ditambah lagi rumah beliau juga cukup jauh dari masjid. Maka suatu hari beliau menemui Nabi saw dan kisah ini juga termuat dalam suatu hadits rasululllah.

Sahabat ini bertanya:Ya rasulallah bolehkan saya shalat dirumah saja. Saya seorang yang buta, sulit bagi saya untuk selalu ke masjid. Mendengar hal itu, Nabi saw bersabda: Apakah engkau masih bisa mendengar suara azan? (maksudnya engkau memang buta, tapi apa juga tuli?).

Ibnu Umi Maktum menjawab: “Sungguh saya masih mendengar setiap seruan azan yang dikumandangkan ya Rasulallah saw.”Lalu Nabi bersabda:“”Kalau begitu, datanglah untuk selalu berjamaah bersama kami.”

Setelah mendengar sabda Nabi saw, Ibnu Umi Maktum “melihat” ia tidak punya pilihan lain selain taat pada Rasulullah saw. Esok subuh, mendengar alunan suara Bilal, Ibnu Umi Maktum segera berangkat ke masjid.
Namun malang, karena tidak mampu melihat, maka ia tersandung batu dan terjatuh hingga keningnya berdarah. Saat berusaha bangkit itulah, ada seseorang yang menolong dan mengantarnya ke masjid.

Sang penolong yang ternyata masih muda itu juga mengantar Ibnu Umi Maktum setelah selesai jamaah sampai ke rumah. Tidak hanya itu, ia juga bahkan berjanji esok, lusa, dan seterusnya untuk mengantar dan menjemput Ibnu Umi Maktum menuju dan kembali dari masjid.

Mengapa kau begitu baik padaku?”, tanya sahabat yang buta ini.
Ah, tak apa. Kita memang harus saling menolong antar sesama makhluk Allah.” jawab sang pemuda.
“Kalau begitu tolong beritahu aku siapa namamu anak muda.” pinta Ibnu Umi Maktum.
“Untuk apa?” tanya sang pemuda.
Ibnu Umi Maktum tersenyum, “Aku akan berdoa kepada Allah agar kau selalu diberi rahmat dan lindungan-Nya. Aku juga akan memohon kepada Rasulllah agar ia juga mendoakanmu. Sekarang katakan siapa namamu?
Oh, tidak usah seperti itu. Tidak apa-apa. Anda tidak perlu repot-repot mendoakan dan memperdulikan saya. Nanti saat masuk waktu dhuhur saya akan kembali, sekarang saya permisi dulu.” Sang pemuda minta izin.

Anak muda. Kalau kau berkeras tidak memberi tahu namamu. Aku bersumpah demi Allah, aku juga tak mau dan tak butuh bantuanmu.” ancam Ibnu Umi Maktum.

Mendengar kekerasan dan kebulatan tekad Ibnu Umi Maktum, sang pemuda akhirnya mengalah.

“Baiklah, perkenalkan…akulah yang disebut IBLIS.”
Ibnu Umi Maktum kaget, “”Jangan main-main kamu terhadap orang tua!””
Aku tidak main-main atau berdusta. Aku adalah IBLIS. Aku yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga.
Ibn Umi Maktum terdiam sesaat, lalu bertanya, “Kalau kau memang IBLIS, seharusnya kau menghalangiku untuk beribadah ke masjid kenapa malah menolong dan mempermudah ibadahku?”
“Wahai Abdullah, sesungguhnya saat kau terjatuh tadi, Allah swt berfirman, “Hambaku terjatuh untuk menuju-Ku. Darahnya mengalir untuk menemui ridha-Ku. Maka saksikanlah wahai para malaikat, setiap ia terjatuh…hapus lah setengah dari dosa-dosanya dan naikkan derajatnya.
Dengan sekali jatuh, Allah mengampuni setengah dosamu. Aku menolongmu, sebab aku khawatir bila kau jatuh untuk kedua kali, maka dosa-dosa mu akan diampuni semuanya. Aku tidak bisa membiarkan itu. Biarlah aku membantumu dengan harapan, setengah dari dosamu sudah cukup untk menyeretmu menjadi golonganku.


Subhanallah. Mari kita berdoa dan berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Wallahu a’lam bishawwab

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..