Monday, February 25, 2013

Saudara Kita Memanggil (Syria Call Us)




Bismillaahirrahmaanirrahiimi..
“Seluruh rambutnya telah memutih. Di bagian kepalanya terdapat luka akibat benturan benda tumpul. Dialah Hamzah Abdullah, pria pengungsian Suriah berusia 60-an tahun. Semula ia masih mampu berbicara biasa.
“Ketika kalian... kaum muslimin dari Indonesia... Malaysia... atau dari negara manapun khususnya selain Arab datang menemani keseharian kami (di kamp pengungsian). Kami merasakan sebagai....”
Tangannya menyilang di dada mengisyaratkan ada sesuatu yang membuncah di dada, menggelora dan tak mampu menahan. Matanya mengerling ke langit-langit, seolah menahan sesuatu yang hendak keluar mengalir jatuh ke bawah. Sesaat nafasnya tertahan hingga berganti menjadi tangis. Semula lirih lambat laun menjadi sesenggukan. Matanya mulai sembab sembari melanjutkan kata-katanya.
“Kami merasakan... dengan dukungan saudara-saudara kami (selain Suriah), bahwa kami adalah satu saudara. Kami benar-benar merasakan sebagai umat Islam yang satu... Seperti sebuah tubuh yang satu.” Kata pria bernama Hamzah tsb.”
Konflik yang terjadi di Suriah ini sudah terjadi sejak Maret 2011 namun pemberitaan yang keluar tentang kondisi Suriah jarang sekali. Sehingga banyak orang menilai ini hanyalah pergolakan politik intern negara biasa. Konflik peperangan Suriah ini terjadi karena ketidakpuasan rakyat kepada penguasanya yang kejam terhadap umat muslim. Ini merupakan revolusi rakyat dalam menentang penguasa yang zalim. Penguasa Suriah, Bashar Asad, memerangi para muslim dan rakyat Suriah yang anti rezim Asad. Muslimin Suriah dirampas kebebasan, kemerdekaan, kemuliaannya hampir selama 50 tahun. Rezim ini sudah kuat mengakar dan tertanam di kekuatan dan kekuasaan negeri ini.
Rakyat Suriah adalah rakyat muslim namun jangan kira mereka bebas melaksanakan syiar-syiar Islam. Ingin masuk masjid, mereka akan diawasi dan dicatat. Bagi yang berkhutbah maka akan dibawa ke kantor polisi. Banyak khatib yang ditangkap, dipenjara sampai mati. Disana mereka tidak bebas, tertindas, tertekan, disiksa, dibantai oleh pemerintah. Banyak orang yang dipenjara, dipasung, digantung  tidaklah lain karena mereka adalah seorang muslim yang mengatakan bahwa Rabb kami adalah Allah (Laailllaha illallah).
Akhirnya banyak warga muslim Suriah yang mengungsi ke perbatasan negara tetangga seperti Turki, Irak, Lebanon dan tinggal di kamp-kamp pengungsian. Berbagai pemberitaan internasional memberi gambaran bahwa keadaan mayoritas pengungsi telah berada dibawah koordinasi. Tetapi faktanya setengah dari pengungsi Suriah itu tidak ter-register / tercatat oleh UNHCR dll. Diperkirakan seluruh pengungsi yang tercatat dan tidak mencapai 1,5 juta jiwa. Diantaranya mereka banyak yang terluka karena roket-roket pemerintah. Sehingga hidup mereka bergantung pada bantuan-bantuan dari saudara muslim lainnya.
Para pengungsi yang mendapat pengobatan di RS perbatasan di Turki kebanyakan adalah dokter dari golongan Nushairiyah. Nushairiyah adalah rezim komunis di Suriah. Pasien korban Suriah diperlakukan semena-mena. Dalam hal lain pun para Nushairiyah menunjukkan sikap negatif terhadap segala bentuk aktivitas yang menyangkut bantuan terhadap muslim Suriah.
Diantara bentuk tindakan malpraktik yang dilakukan dokter Nushairiyah adalah melakukan tindakan amputasi pada kasus ringan yang sebenarnya bisa diobati tanpa amputasi. Misalnya luka di jari yang seharusnya cukup diobati namun dilakukan amputasi lengan.
Terpaksa para pengungsi berobat ke RS Swasta yang biayanya lebih mahal, karena RS pemerintah dikuasai oleh dokter-dokter Nushairiyah. Obat-obatan untuk para pengungsi pun sangat mahal didapat.
Relawan Indonesia telah membantu mengobati dan melihat keadaan di kamp-kamp pengungsian perbatasan Suriah. Salah satunya dari HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) yang berangkat 31 Juli 2012 dengan beranggotakan 4 relawan ke pengungsian Suriah di Turki. Tim melakukan kunjungan, pengobatan serta mendirikan klinik. Akan tetapi awal Oktober lalu klinik tersebut sempat terkena roket walaupun tidak ada korban jiwa.
Paparan dr. Adisurya Dharma (salah satu relawan HASI) mengalami sendiri, serangan-serangan massal terhadap umat muslim Suriah dilakukan ketika waktu-waktu shalat umat Islam.
“Ketika saya shalat jum’at saya dapat merasakan dan mendengar suara ledakan-ledakan roket di kota-kota Suriah. Bangunan masjid-masjid dengan menaranya yang tinggi-tinggi itu tampak hancur oleh roket-roket pemerintah. Inilah kondisi yang setiap hari terjadi. Rakyat menjadi takut apabila shalat di masjid.”
Mari kita bersama mengklarifikasi dan melihat lebih dekat apa yang sesungguhnya terjadi bukan hanya dari pemberitaan-pemberitaan yang dikabarkan oleh media asing. Sehingga bisa jadi kita melihat sebuah bangsa yang telah melakukan penghancuran terhadap rakyat muslimnya yang terzalimi. Mohonkan kepada Allah dalam doa dan shalat kita supaya peperangan ini, Allah menangkan umat muslim atas musuh-Nya.
Nabi SAW mengajari bahwa hakikat sebenarnya kehidupan bersaudara (dalam Islam) laksana tubuh yang satu. Hingga salah satu bagian tubuh terluka, yang lain akan merasakan sakitnya dan berusaha mengobatinya.
Saudara-saudara kita di Suriah membutuhkan pengobatan, perawatan, bantuan dan kepedulian dari umat Islam Indonesia. Meski hanya setetes bantuan baik itu harta dan doa, cukup apabila kita tidak bisa melakukan yang lebih. Sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan kalian.
Bacalah, renungilah dan mohon disebarkan kepada saudara muslim lainnya.
Jazakumullahu khairan

Dikutip dari:
*Media cetak HASI “Setangkup Janji Untuk Suriah”.
*Kajian Peduli Suriah di Masjid Pangeran Diponegoro Semarang.
Update dan informasi berita dapat diakses di media-media Islam seperti www.hilalahmarsociety.org   www.eramuslim.com, www.sabili.com dan lain-lain. Bantuan bisa disalurkan melalui bank syariah mandiri no.rek 7038 9883 97 a.n. Hilal Ahmar Yayasan dan konfirmasi ke hilalahmar_society@yahoo.com

“Syaikh Muhammad, apakah anda menangis karena duka atau karena tidak mampu berbuat banyak?”
“Karena keduanya tapi rasa duka lebih besar. Tidak ada lagi kebaikan dalam diri jika hati kita tidak terbakar setelah menyaksikannya. Kita berbicara atas dasar kemanusiaan, fitrahnya seorang insan. Seolah-olah mereka lebih rendah daripada binatang. Akupun menangis dari ketidakmampuan berbuat sesuatu dan ini sungguh menyakitkan. Mereka dihinakan dengan tendangan sepatu yang menghantam di wajah mereka, dan menyuruh bersujud pada fotonya Bashar Asad. Akan tetapi orang-orang ini menolak sekalipun dia akan terbunuh, disembelih, menderita, bahkan ia meludahi foto penguasa berdosa ini. Bersabarlah wahai orang yang beriman ”


No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..