Friday, July 19, 2013

Pentingnya Menjaga Lurusnya Shaf dalam Shalat


Pentingnya Meluruskan Shaf dan Ancaman Keras Bagi Yang Tidak Meluruskannya

Dan diantara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalaahn lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat).

Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.

Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Abdillah An Ni’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).” (HR Bukhari No.727 dan Muslim No.436)



Dalam satu riwayat milik Imam Muslim disebutkan,
Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya). Kemudian pada suatu hari beliau keluar lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin sabda beliau yang mulia yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian dan amat belas kasihan lagi penyanyang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah 128)

Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi umatnya kaum muslimin.
Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada umatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang umatnya agar menjauhinya.

Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam salat dengan sabdanya seperti disebutkan diatas riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Para ulama berbeda pendapat tentang makna “berpalingnya atau berselisihnya wajah”,

Sebagian mereka berpendapat bahwasanya maknanya sungguh Allah subhanallahu wa ta’ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mampu atas segala sesuatu.

Dialah Allah ‘azza wa jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina.” (Al Baqarah 65) maka jadilah mereka kera.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.

Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan disini adalah perselisihan maknawiyyah yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.

Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, “atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian.”

Dengan alasan inilah maka yang dimaksud dengan sabda beliau, “atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian”, yakni cara pandang kalian yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.

Wajibnya Meluruskan Shaf

Bagaimanapun juga di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dana kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan diantara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.

Ketika manusia semakin banyak di masa khalifah ‘Umar bin Khattab, ‘Umar pun memerintahkan sesesorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan. “Shaf sudah lurus” maka ‘Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.

Demikian juga hal ini dilakukan oleh ‘Ustman bin ‘Affan beliau menugaskan sesesorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan. “Shaf telah lurus”, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.

Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa’ur rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.



Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur

Akan tetapi sungguh amat disesalkan, sekarang kita akan dapati para makmum tidak memperdulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan yang satu lagi agak mundur ke belakang tidak peduli akan lurusnya dan rapatnya shaf.

Kadang-kadang mereka lurus pada rakaat pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu maju dan yang lain agak ke belakang dan mereka tidak meluruskan shaf pada rakaat kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di rakaat kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.

Yang mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka kita dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits diatas. Wallaahu Musta’an.

Semoga Allah tabaraka wa ta’ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dimana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami’naa wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), bukan sami’naa wa ‘ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).

Yang jelas wajib bagi imam maupun makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.

Bila Hanya Ada Imam dan Seorang Makmum

Kalau ada yang bertanya, “Apabila disana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?”

Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.

Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu ‘Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu ‘Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun ‘alaih)

Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit kedepan”. Pendapat ini tidak ada dalilnya bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka berdua.

Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, “Bahwanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah.” Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna sehingga tidak ada yang maju kedepan maupun mundur walalupun sedikit.

Rasulullah biasa meluruskan shaf seakan-akan meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para sahabat telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus beliaupun memulai shalatnya. 
 
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian” sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.

Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?

Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang bellum lurus atau belum rapat maka beliapun meluruskannya bahkan mengancam sebagaimana kisah dalam hadits diatas.

Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.

Dari Anas, katanya: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ratakanlah shaf-shafmu semua itu, karena sesungguhnya meratakan shaf-shaf itu termasuk tanda kesempurnaan shalat." (Muttafaq 'alaih)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu a’lam

Tulisan asli oleh Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy

Sumber Referensi:
Disadur dari Syarah Riyadus Shalihin dengan beberapa tambahan dan perubahan

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..