Tuesday, February 25, 2014

How The Prophet Responding About Fate



An article from Hidayatullah magazine November 2012

As a moslem we must believe with all heart that Allah has detailed plans to His creatures, including humans.

Have faith in Allah Qadha and Qadr include in the pillars (pillar) of faith (iman). Unlegal a person's faith if he does not justify the doctrine of fate, without the slightest doubt that indeed He is the All Knowing. Messenger of Allah said,

"It is not a servant
faith to the destiny that the good and the bad from Allah, until he knows that what happened to him not because of his mistake, and that mistake will not happen to him." (Narrated by At-Tirmidhi)

Have faith in fate means we believe that Allah has complete, detailed, and certainly plans upon us.

No matter how small that is related to us but has been
written in His great plan. As for example, the father and mother we are have, what name is given to us, our soul mate, when will our time arrive, how many blessing for ours, what will happen to us after leaving the world and so on.

Allah says:
Say, ‘Nothing will happen to us except what Allah has decreed for us: He is our protector’: and on Allah let the believers put their trust." (At Taubah 9: 51)

In other words, all the drama of human life from birth to death are accordance with the plans that have been established by Allah without being able to be changed and quarelled, whether the big or small, the past, present and future.

Most men misunderstand look to the teachings of fate. When his past is filled with failures, they tend to perceive that it is his twist of fate. They tend to think negatively. They conclude that there is no possibility to change themselves. They become apathetic and passive. Though that unsuccessful may not because of him but because Allah has not willed it.

If someone tried but have not been too successful, does not mean they can not capable. It does not mean they can not afford too. Perhaps the lack of success arises from sense of their subjectivity.

They forget that the success was obtained through several efforts and experiments. Various failure experiences may be become an important capital to reach success. Instead, people that his past is filled with success, tend to have an optimistic mental overload. They feel as if the success is his twist of fate. They see themselves not possibly to fall. They do not realize that the world and life are experiencing the ups and downs (volatile).

If destiny fails immediately visited them then they can not accept it. They tend to scapegoat the others and God. They were just ready to accept victory and not ready to accept defeat. They become arrogant and haughty, jealous and hurt. It is man, most do not really understand about fate. It will thus give birth to a human whose soul splited, unbalanced, not intact (split personality).


How Our Attitude Toward Fate

The Prophet provide us beautiful guidance in addressing the fate itself. Word of his saying,

"Be excited to acquire what is beneficial to you, and ask helps to Allah, and do not ever feel helpless. And when you are hit by a misfortune thou shalt say, 'If I do (this) of course will become this and so.' But let's say, 'Allah has destined (so).' And what He wills He does, because the word "if" it will open the devil door (space). (Narrated by Muslim)

Based on the hadith above, there are at least four important lessons about faith in fate, that are:
1. Humans must first determine clear goals about what is beneficial to their own life. We may seek to acquire knowledge, wealth, power, influence and the other so long as of all them are not to bring harm (danger) for himself and everyone else.

Verily Allah gives something to someone is directly proportional to his mental picture. The Prophet in the hadith narrated by Thabrani and Abu Nu'aim from Watsilah, saying that Allah follow together with His servant presupposition toward Him. If good then  will be good it is. If it is bad then bad will be.

2. Do try as hard as you can. And then the result, submit it to Allah. Humans just trying, and He is The One who determine it.

3. Do not forget to seek help from Allah when trying. Because, for Him there is no hard, heavy, even less a dead end. He is The Ruler of all without any limited.

4. Do not feel helpless, because basically every human being has been given a tremendous potential.

If today we are overwhelmed with grief, do not dissolve in grief. Conversely, if we are on the rise, do not dissolve in pleasure. Surely the pleasure is not eternal (laa yadum).

The Dangers of "If"

The Prophet always taught moslems to think positive. Here are the concrete steps:
1. Do not say, "If I do so definitely will happen like this." Or, "If I do not do so certainly not going to happen like this."

That words mean that we forget that what has happened in the past is in conformity with what is destined for us at that time.

2. But said, "Allah has destined so and what He wills He does."

So what has happened to us is the will of Allah that can not be avoided and altered by anyone. We must accept it as a reality. We have to be realistic. We do not have to dissolve in disappointment, so we not to waste energy on things that are destructive.

3. Do not say "if" when have objections with fate. The words "if" will just open the devil door.

What we assume now to be done or not done in the past, as well as the effects of the supposed actions, impossible
to happen. Therefore, the past may not be pulled back to be fixed according to our will today.

So what benefits of saying if? Those words will trigger only regret protracted, uncontrolled anger, fiery revenge, greedy and spiteful. Every of those were just going to spend energy and human potential.

We have to realize that life in this world must have ups and downs. That's the romance of life. Even may be by that romances rewards flowing to us. Is not the reward is directly proportional to the degree of difficulty and hardship of moslem? Help from Allah impossible to come by way of instant (suddenly) and free.  

wallahu a'lamu

Thursday, February 20, 2014

Cara Rasul Menyikapi Takdir

Artikel majalah Hidayatullah Nopember 2012

Sebagai orang beriman kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah memiliki rencan yang terperinci terhadap makhluk-Nya, termasuk manusia.

Beriman kepada qadha dan qadar Allah termasuk rukun (pilar) iman. Tidak sah keimanan seseorang jika ia tidak membenarkan ajaran takdir, tanpa ragu sedikit pun bahwa sesungguhnya Dia Maha Luas Ilmu-Nya.
Rasulullah bersabda,

"Tidaklah seorang hamba itu beriman kepada takdir yang baik dan buruk dari Allah, hingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukan karena kesalahannya, dan kesalahannya itu tidaklah akan menimpanya." (HR At-Tirmidzi)

Beriman kepada takdir berarti kita meyakini bahwa Allah telah memiliki rencana lengkap, terperinci, dan pasti atas diri kita.

Tiada sekecil apa pun yang berkaitan dengan kita melainkan sudah termaktub dalam rencana besar-Nya. Misalnya siapa ibu bapak kita, apa nama yang diberikan kepada kita, siapa jodoh kita, kapan ajal kita tiba, berapa bagian rezeki kita, bagaimana nasib kita setelah meninggalkan dunia dan seterusnya.

Allah berfirman:
Katakanlah, "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal." (At Taubah 9 : 51)

Dengan kata lain, semua lakon kehidupan manusia sejak kelahirannya hingga kematiannya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa bisa diubah dan diselisihi, baik yang besar ataupun yang kecil, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Kebanyakan manusia salah paham memandang ajaran takdir. Bila masa lalunya dipenuhi berbagai kegagalan, mereka cenderung mempersepsikan bahwa itu suratan takdirnya. Mereka cenderung berpikir negatif. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengubah diri. Mereka menjadi apatis dan pasif.

Padahal ketidaksuksesan itu boleh jadi bukan karena dirinya melainkan karena Allah belum menghendakinya.

Apabila seseorang mencoba namun belum juga sukses, bukan berarti mereka tidak mampu. Bukan pula berarti mereka tidak sanggup. Boleh jadi ketidaksuksesan itu muncul dari rasa subjektivitas mereka.

Mereka lupa bahwa keberhasilan itu diperoleh melalui beberapa kali percobaan. Berbagai pengalaman gagal justru menjadi modal penting meraih sukses.

Sebaliknya, orang yang masa lalunya dipenuhi berbagai keberhasilan, cenderung memiliki mental optimis yang berlebihan. Mereka merasa seakan-akan keberhasilan itu suratan takdirnya.

Mereka melihat diri mereka tidak mungkin jatuh. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini mengalami pasang surut (fluktuatif).

Jika takdir gagal menyambangi mereka maka mereka langsung tidak bisa menerimanya. Mereka cenderung mengambinghitamkan orang lain dan Tuhan. Mereka hanya siap menerima kemenangan dan tidak siap menerima kekalahan. Mereka menjadi sombong dan tinggi hati, iri hati dan sakit hati.

Begitulah manusia, kebanyakan tidak benar memahami takdir. Hal demikian akan melahirkan manusia yang jiwanya terbelah, tidak seimbang, tidak utuh (split personality).

Cara Menyikapi Takdir

Rasulullah memberikan tuntunan yang indah dalam menyikapi takdir. Sabda beliau,
"Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali merasa tidak berdaya. Dan apabila engkau tertimpa suatu kemalangan maka janganlah engkau berkata, 'Seandainya aku berbuat (begini) tentu begini dan begitu.' Tapi katakanlah, 'Allah telah menakdirkan (begitu).' Dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat, karena perkataan "seandainya" itu membuka pintu setan. (HR Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, setidaknya ada empat pelajaran penting tentang iman terhadap takdir, yakni:
1. Manusia harus terlebih dahulu menentukan sasaran yang jelas mengenai apa yang bermanfaat bagi kehidupannya. Kita boleh berupaya memperoleh ilmu, harta, kekuasaan, pengaruh dan yang lainnya asal semua itu bukan untuk mendatangkan mudharat (bahaya yang mengancam) bagi dirinya dan orang lain.

Sesungguhnya Allah memberikan sesuatu kepada seseorang berbanding lurus dengan gambaran mentalnya. Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dan Abu Nu'aim dari Watsilah, berkata bahwa Allah menuruti persangkaan hamba-Nya terhadap-Nya. Kalau baik maka baiklah ia. Kalau buruk maka buruklah.

2. Berikhtiarlah semaksimal mungkin. Adapun hasil akhir, serahkan kepada Allah. Manusia hanya berusaha, Dia yang menentukan.

3. Mohon pertolongan Allah dalam berusaha. Sebab, bagi-Nya tidak ada yang sulit, berat, apalagi jalan buntu. Dia penguasa segala-galanya tanpa dibatasi apapun.

4. Janganlah merasa tidak berdaya, karena pada dasarnya setiap manusia telah diberi potensi-potensi yang dahsyat.

Jika hari ini kita dirundung duka, jangan larut dalam kesedihan. Sebaliknya, jika kita sedang naik daun, jangan larut dalam kesenangan. Sesungguhnya kenikmatan itu tidak kekal (laa yadum).

Bahaya "Seandainya"

Rasulullah senantiasa mengajarkan kepada manusia agar berfikir positif. Berikut adalah langkah kongkritnya:
1. Jangan berkata, "Seandainya aku kerjakan begitu pasti terjadi begini." Atau, "Seandainya aku tidak mengerjakan begitu tentu tidak akan terjadi begini."

Perkataan tersebut berarti kita lupa bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu sudah sesuai dengan apa yang menjadi takdir kita saat itu.

2. Tapi berkatalah, "Allah telah mentakdirkan begitu dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat."

Jadi apa yang telah terjadi terhadap diri kita adalah atas kehendak Allah yang tak mungkin dihindari dan diubah oleh siapa pun. Kiata harus menerima semua itu sebagai kenyataan. Kita harus bersikap realistis. Kita tidak usah larut dalam kekecewaan, agar tidak memboroskan energi untuk hal-hal yang destruktif.

3. Janganlah mengatakan "seandainya" bila keberatan dengan takdir. Kata-kata "seandainya" hanya membuka pintu setan.

Apa yang kita andaikan sekarang untuk dilakukan atau tidak dilakukan di masa lalu, maupun efek dari perbuatan yang diandaikan itu, mustahil terjadi. Sebab, masa lalu itu tidak mungkin bisa ditarik kembali untuk diperbaiki sesuai dengan kemauan kita sekarang ini.

Jadi, apa manfaatnya berkata seandainya? Perkataan itu hanya akan memicu penyesalan yang berlarut-larut, marah yang tidak terkendali, dendam yang semakin membara, serakah dan dengki. Semua itu hanya akan menghabiskan energi dan potensi manusia.

Kita harus sadar bahwa kehidupan di dunia ini pasti mengalami pasang surut. Itulah romantika kehidupan. Bahkan boleh jadi lewat romantika itulah pahala mengalir deras untuk kita. Bukankah pahala itu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan dan kepayahan kaum Muslim? Pertolongan Alla mustahil datang dengan cara instan (tiba-tiba) dan gratis (majjanan).  

wallahu a'lamu


Sunday, February 9, 2014

Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi dan Metodologi Memahami Islam


PENGANTAR PERKULIAHAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pendidikan
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.” (QS Al ‘Alaq 1)
Kehadiran agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, membawa perubahan peradaban dan spritual yang begitu besar hingga dapat dirasakan sekarang ini. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril as menunjukkan betapa Islam begitu memperhatikan aspek pendidikan atau menuntut ilmu sebagai kebutuhan manusia. Tidak hanya sebagai kebutuhan saja akan tetapi Allah SWT mengabarkan bahwa orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.
Apabila kita amati dan renungkan di dalam kehidupan bermasyarakat, kita dapati bahwa orang-orang yang memiliki ilmu, memiliki kapasitas, keahlian atau kemampuan cenderung mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau taraf hidup yang lebih baik di masyarakat. Karena dengan adanya kapasitas, keilmuan, keahlian dan kemampuan tersebut, seseorang dapat menjalani kehidupannya, mencukupi kebutuhannya, melakukan pekerjaan, dsb. Oleh karena itu, benarlah yang Allah kabarkan kepada umat muslim tentang kedudukan orang-orang yang menempuh ilmu atau pendidikan baik itu untuk dunia atau akhiratnya.

Agama Islam
            Manusia perlu memahami salahsatu hal yang menjadi fitrahnya hidup di dunia. Sebelum dilahirkan di dunia ini, manusia terlebih dahulu telah diikat dengan sebuah perjanjian kepada penciptanya yaitu Allah SWT. Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan ditegaskan dalam ajaran Islam yaitu bahwa agama adalah kebutuhan fitrah manusia.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS Ar Ruum 30)
            Berdasarkan penggalan ayat tersebut, terlihat bahwa manusia secara fitrah merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Sehingga agama bukanlah sebuah status saja akan tetapi sebuah kebutuhan dan pedoman hidup. Dalam beragama Islam kita dituntut untuk mengimani yang menjadi Rukun Iman dan menjalankan yang menjadi Rukun Islam, serta melakukan amal-amal shalih. Inilah yang menjadikan Agama Islam adalah agama yang sempurna yang diterangkan dalam wahyu terakhir yang diterima Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya. Dengan demikian sudah sepantasnya kita sebagai umat muslim senantiasa memperbaiki diri dalam beragama dan tetap berpegang teguh terhadap tali agama Allah melalui peribadatan dan amal-amal shalih.


Pendidikan Agama Islam dan Cakupannya
            Menuntut ilmu merupakan keharusan / kewajiban bagi setiap pribadi muslim terlebih lagi pendidikan terhadap ilmu agama. Pendidikan agama Islam diarahkan pada pengembangan kepribadian mahasiswa yang beragama Islam untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam. Materi-materi yang dibahas adalah materi-materi yang sifatnya penting dan umum, yang mencakup aspek-aspek ke-Islam-an secara luas. Pendidikan agama Islam juga mengacu kepada 4 pilar pendidikan, yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan/mengamalkan), learning to live together (belajar untuk dapat hidup dalam kebersamaan), dan learning to be (belajar untuk menjadi). Sehingga dengan pendidikan ini diharapkan pengembangan kecerdasan: intelektual, emosional, profesional, spiritual, finansial, sosial dan estetika.

Target Pendidikan Agama Islam
Dalam mengikuti perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi:
·         Kemampuan memahami pokok-pokok ajaran agama Islam.
·         Kemampuan menerapkan ajaran Islam sebagai sumber nilai dan landasan berfikir serta berperilaku dalam ilmu dan profesi yang digeluti.
·         Kemampuan menyelesaikan masalah keagamaan dasar dalam kehidupan sehari-hari.

METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM

            Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melainkan menunjukkan cara-cara efektif dalam memecahkan masalah.

Pengertian Metodologi
Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metodologi juga disebut cara pengajaran atau penelitian.
Jadi metodologi pemahaman Islam adalah ilmu yang membicarakan cara - cara atau langkah-langkah dalam memahami agama Islam untuk mencapai tujuan tertentu. Metodologi yang tepat dalam memahami islam akan mengantarkan kita terhadap pemahaman yang utuh dan integral terhadap islam. Jadi tanpa metodologi, kita tidak akan mampu melihat isi ajaran islam dengan baik.
Kegunaan Metodologi Memahami Islam
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13M. Hingga saat ini, fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan yang amat variatif. Kondisi pemahaman ke-Islaman serupa ini barangkali terjadi pula di berbagai negara lainnya. Proses pengajaran Islam hingga saat ini belum tersusun secara sistematis sehingga terdapat sejumlah orang yang pengetahuannya tentang ke-Islaman cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistematis. Mereka biasanya datang dari kalangan ulama yang belajar ilmu ke-Islaman secara otodidak atau kepada berbagai guru yang antara satu dan lainnya tidak pernah saling bertemu dan tidak pula berada dalam satu acuan yang sama semacam kurikulum. Karenanya mereka tidak dapat ditugaskan menjadi pengajar di Perguruan Tinggi yang menuntut keteraturan dan pengorganisasian. Atau barangkali orang yang penguasaannya terhadap salahsatu bidang keilmuan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin ilmu ke-Islaman lainnnya dan beranggapan bahkan meremehkan ilmu yang bukan keahliannya itu. Sehingga dalam mengatasi suatu permasalahan mereka hanya berdasarkan paradigma ilmu yang dikuasai tanpa memperhatikan bidang yang lainnya.
Selanjutnya kita melihat pula munculnya paham ke-Islaman bercorak tasawuf yang sudah mengambil bentuk tarikat yang terkesan kurang menampilkan pola hidup yang seimbang antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Dalam tasawuf ini, kehidupan dunia terkesan diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akhirat, sedangkan urusan dunia menjadi terbengkalai. Akibatnya keadaan umat menjadi mundur dalam bidang keduniaan, materi dan fasilitas hidup lainnya.
Pemahaman Ke-Islaman tersebut di atas jelas tidak membuat yang bersangkutan keluar dari Islam, namun untuk kepentingan akademis dan untuk membuat Islam lebih responsif dan fungsional dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapi diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif.
Dari beberapa uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran. Untuk mencapai suatu kemajuan, kejeniusan saja belum cukup, melainkan harus dilengkapi dengan ketepatan memilih metode yang akan digunakan untuk kerjanya dalam bidang pengetahuan. Kini disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan dibidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan.

Tujuan Metodologi Memahami Islam
Adapun tujuan sebuah metodologi dalam upaya mempelajari dan memahami Islam antara lain sebagai berikut:
1.      Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam memahami Islam atau pemahaman Islam yang sesat.
2.      Untuk memberikan petunjuk cara-cara memahami Islam secara tepat, benar, sistematis, terarah, efektif, efisien, dan membawa orang untuk mengikuti kehendak agama. Bukan sebaliknya, agama yang harus mengikuti kehendak masing-masing orang.
3.      Penguasaan metode yang tepat akan menjadikan seseorang dapat mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya orang yang tidak menguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu semata, tidak akan memproduksi suatu ilmu.
Metodologi Memahami Islam
Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam, karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. Dengan berpedoman kepada semangat dan isi ajaran al-Quran yang diketahui mengandung banyak aspek. Berbagai aspek yang ada dalam al-Quran jika dipelajari secara menyeluruh akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Ali Syariati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam :
a.       Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain
b.      Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya.
c.       Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah.
d.      Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain.
Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Perbandingan menghendaki obyektifitas, tidak ada pemihakan dan semacamnya. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi, Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Dalam hubungan ini, ia mengatakan bahwa tugas intelektual hari ini ialah mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, perseorangan, maupun masyarakat, dan bahwa sebagai intelektual dia memikul amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik. Dia harus menyadari tugas ini sebagai tugas pribadi dan apa pun bidng studinya dia harus senantiasa menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam dan tentang tokoh-tokoh besarnya, sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Selanjutnya, terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razzak. Ia mengajarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Cara tersebut digunakan untuk memahami Islam paling besar agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap saling menghormati terhadap pemeluk agam lain. Metode tersebut juga di tempuh dalam rangka menghindari kesalahfahaman yang menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah.
Untuk memahami Islam secara benar, terdapat empat cara yang tepat menurut Nasruddin Razzak, yaitu sebagai berikut:
1.       Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits.
Kekeliruan memahami Islam, karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah, atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme, yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.
2.       Islam harus di pelajari dengan integral atau secara keseluruhan,
Tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Memahami Islam secara persial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
3.       Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam,
Pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
4.    Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat.
Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan, apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja, maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi), sekalipun kita melihatnya itu betul. Islam seharusnya dipahami secara bulat, yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif.
Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Metode ini juga untuk memahami agama Islam, juga agama-agama lain, kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain, yaitu 1) Aspek ketuhanan, 2) Aspek kenabian, 3) Aspek kitab suci dan 4) Aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Dari beberapa metode tersebut terdapat dua metode dalam memahami Islam secara garis besar, yaitu:
1.      Metode komparasi, yaitu metode memahami Islam dengan membandingkan seluruh aspek Islam dengan agama lainnya agar tercapai pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Dalam komparasi tersebut terlihat jelas bahwa islam sangat berbeda dengan agama-agama lain. Intinya Islam mengajarkan kesederhanaan dalam kehidupan dan dalam berbagai bidang.
2.      Metode sintesis, yaitu metode memahami Islam dengan memadukan metode ilmiah dengan dengan segala cirinya yang rasional obyektif, kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif.
Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Pertama metode Komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua, Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif, kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif.
Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. Hal ini didasarkan pada alasan, karena agama berasal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar, maka agama pun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal.

DAFTAR PUSTAKA
Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, 2006, Jakarta: Amanah
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, 2009, Jakarta: Rajawali Pers