Thursday, February 20, 2014

Cara Rasul Menyikapi Takdir

Artikel majalah Hidayatullah Nopember 2012

Sebagai orang beriman kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah memiliki rencan yang terperinci terhadap makhluk-Nya, termasuk manusia.

Beriman kepada qadha dan qadar Allah termasuk rukun (pilar) iman. Tidak sah keimanan seseorang jika ia tidak membenarkan ajaran takdir, tanpa ragu sedikit pun bahwa sesungguhnya Dia Maha Luas Ilmu-Nya.
Rasulullah bersabda,

"Tidaklah seorang hamba itu beriman kepada takdir yang baik dan buruk dari Allah, hingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukan karena kesalahannya, dan kesalahannya itu tidaklah akan menimpanya." (HR At-Tirmidzi)

Beriman kepada takdir berarti kita meyakini bahwa Allah telah memiliki rencana lengkap, terperinci, dan pasti atas diri kita.

Tiada sekecil apa pun yang berkaitan dengan kita melainkan sudah termaktub dalam rencana besar-Nya. Misalnya siapa ibu bapak kita, apa nama yang diberikan kepada kita, siapa jodoh kita, kapan ajal kita tiba, berapa bagian rezeki kita, bagaimana nasib kita setelah meninggalkan dunia dan seterusnya.

Allah berfirman:
Katakanlah, "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal." (At Taubah 9 : 51)

Dengan kata lain, semua lakon kehidupan manusia sejak kelahirannya hingga kematiannya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa bisa diubah dan diselisihi, baik yang besar ataupun yang kecil, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Kebanyakan manusia salah paham memandang ajaran takdir. Bila masa lalunya dipenuhi berbagai kegagalan, mereka cenderung mempersepsikan bahwa itu suratan takdirnya. Mereka cenderung berpikir negatif. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengubah diri. Mereka menjadi apatis dan pasif.

Padahal ketidaksuksesan itu boleh jadi bukan karena dirinya melainkan karena Allah belum menghendakinya.

Apabila seseorang mencoba namun belum juga sukses, bukan berarti mereka tidak mampu. Bukan pula berarti mereka tidak sanggup. Boleh jadi ketidaksuksesan itu muncul dari rasa subjektivitas mereka.

Mereka lupa bahwa keberhasilan itu diperoleh melalui beberapa kali percobaan. Berbagai pengalaman gagal justru menjadi modal penting meraih sukses.

Sebaliknya, orang yang masa lalunya dipenuhi berbagai keberhasilan, cenderung memiliki mental optimis yang berlebihan. Mereka merasa seakan-akan keberhasilan itu suratan takdirnya.

Mereka melihat diri mereka tidak mungkin jatuh. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini mengalami pasang surut (fluktuatif).

Jika takdir gagal menyambangi mereka maka mereka langsung tidak bisa menerimanya. Mereka cenderung mengambinghitamkan orang lain dan Tuhan. Mereka hanya siap menerima kemenangan dan tidak siap menerima kekalahan. Mereka menjadi sombong dan tinggi hati, iri hati dan sakit hati.

Begitulah manusia, kebanyakan tidak benar memahami takdir. Hal demikian akan melahirkan manusia yang jiwanya terbelah, tidak seimbang, tidak utuh (split personality).

Cara Menyikapi Takdir

Rasulullah memberikan tuntunan yang indah dalam menyikapi takdir. Sabda beliau,
"Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali merasa tidak berdaya. Dan apabila engkau tertimpa suatu kemalangan maka janganlah engkau berkata, 'Seandainya aku berbuat (begini) tentu begini dan begitu.' Tapi katakanlah, 'Allah telah menakdirkan (begitu).' Dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat, karena perkataan "seandainya" itu membuka pintu setan. (HR Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, setidaknya ada empat pelajaran penting tentang iman terhadap takdir, yakni:
1. Manusia harus terlebih dahulu menentukan sasaran yang jelas mengenai apa yang bermanfaat bagi kehidupannya. Kita boleh berupaya memperoleh ilmu, harta, kekuasaan, pengaruh dan yang lainnya asal semua itu bukan untuk mendatangkan mudharat (bahaya yang mengancam) bagi dirinya dan orang lain.

Sesungguhnya Allah memberikan sesuatu kepada seseorang berbanding lurus dengan gambaran mentalnya. Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dan Abu Nu'aim dari Watsilah, berkata bahwa Allah menuruti persangkaan hamba-Nya terhadap-Nya. Kalau baik maka baiklah ia. Kalau buruk maka buruklah.

2. Berikhtiarlah semaksimal mungkin. Adapun hasil akhir, serahkan kepada Allah. Manusia hanya berusaha, Dia yang menentukan.

3. Mohon pertolongan Allah dalam berusaha. Sebab, bagi-Nya tidak ada yang sulit, berat, apalagi jalan buntu. Dia penguasa segala-galanya tanpa dibatasi apapun.

4. Janganlah merasa tidak berdaya, karena pada dasarnya setiap manusia telah diberi potensi-potensi yang dahsyat.

Jika hari ini kita dirundung duka, jangan larut dalam kesedihan. Sebaliknya, jika kita sedang naik daun, jangan larut dalam kesenangan. Sesungguhnya kenikmatan itu tidak kekal (laa yadum).

Bahaya "Seandainya"

Rasulullah senantiasa mengajarkan kepada manusia agar berfikir positif. Berikut adalah langkah kongkritnya:
1. Jangan berkata, "Seandainya aku kerjakan begitu pasti terjadi begini." Atau, "Seandainya aku tidak mengerjakan begitu tentu tidak akan terjadi begini."

Perkataan tersebut berarti kita lupa bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu sudah sesuai dengan apa yang menjadi takdir kita saat itu.

2. Tapi berkatalah, "Allah telah mentakdirkan begitu dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat."

Jadi apa yang telah terjadi terhadap diri kita adalah atas kehendak Allah yang tak mungkin dihindari dan diubah oleh siapa pun. Kiata harus menerima semua itu sebagai kenyataan. Kita harus bersikap realistis. Kita tidak usah larut dalam kekecewaan, agar tidak memboroskan energi untuk hal-hal yang destruktif.

3. Janganlah mengatakan "seandainya" bila keberatan dengan takdir. Kata-kata "seandainya" hanya membuka pintu setan.

Apa yang kita andaikan sekarang untuk dilakukan atau tidak dilakukan di masa lalu, maupun efek dari perbuatan yang diandaikan itu, mustahil terjadi. Sebab, masa lalu itu tidak mungkin bisa ditarik kembali untuk diperbaiki sesuai dengan kemauan kita sekarang ini.

Jadi, apa manfaatnya berkata seandainya? Perkataan itu hanya akan memicu penyesalan yang berlarut-larut, marah yang tidak terkendali, dendam yang semakin membara, serakah dan dengki. Semua itu hanya akan menghabiskan energi dan potensi manusia.

Kita harus sadar bahwa kehidupan di dunia ini pasti mengalami pasang surut. Itulah romantika kehidupan. Bahkan boleh jadi lewat romantika itulah pahala mengalir deras untuk kita. Bukankah pahala itu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan dan kepayahan kaum Muslim? Pertolongan Alla mustahil datang dengan cara instan (tiba-tiba) dan gratis (majjanan).  

wallahu a'lamu


No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..