Wednesday, December 24, 2014

Al-Qur’an Dan Al-Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam



BAB I
PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril. Keistimewaan Al-Qur’an dibandingkan dengan kitab-kitab suci yang lain ialah kemurnian atau keaslian Al-Qur’an dijaga langsung oleh Allah, agar tidak ada satupun ayat-Nya yang berubah. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula-lah yang menjaganya”(Al-Hijr : 9)
Dari Al-Qur’an pula ilmu-ilmu pengetahuan berkembang, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan agama. Sedangkan Hadits adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Fungsi hadis itu sendiri ialah sebagai penjelas apa yang ada dalam al-Qur’an. Jadi, kedudukan Hadits dalam bidang studi keislaman ialah menjelaskan secara terperinci apa yang ada di dalam al-Qur’an. Merupakan fungsi hadis lainnya ialah sebagai bukti atas ke-Rasulan Nabi Muhammad SAW. Pada makalah ini akan membahas tentang Al-Qur’an dan Hadits serta posisinya sebagai sumber hukum dalam Islam.



BAB II
AL-QUR’AN

A.    Definisi Al-Qur’an
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah.
Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nass.
  1. Secara Bahasa (Etimologi)
Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) (keduanya berArti: membaca), atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-Qur’an asalnya sama dengan Qira’ah, yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari Qara’a, Qira’atan, waqur’anan. Qur’anah disini berarti qira’ah( bacaan atau cara membacanya). Jadi kata itu adalah akar kata (masdar) menurut wazan (tasrif) dari kata fu’lan seperti “ghufran” dan “syukron”. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa Arab dan sampai kepada kita melalui periwayatan yang tidak terputus atau tawattur.



  1. Secara Syari’at (Terminologi)
Adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad SAW diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para rasul.

B.     Struktur dan pembagian Al-Qur’an
  1. Surat, Ayat dan Ruku’
Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al-Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku’ yang membahas tema atau topik tertentu.
  1. Makkiyah dan Madaniyah
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.
  1. Juz dan Manzil
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur’an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur’an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur’an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.
  1. Menurut Ukuran Surat
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
a)      As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
b)      Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan sebagainya.
c)      Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya.
d)     Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas dan sebagainya.

C.    Kedudukan Al Qur’an
  1. Kitabul Naba wal akhbar (Berita dan Kabar), QS. An Naba’ (7 : 1-2)
  2. Kitabul Hukmi wa syariat (Kitab Hukum Syariah), QS. Al Maidah (5) : 49-50
  3. Kitabul Jihad, QS. Al Ankabut (29) : 69
  4. Kitabul Tarbiyah, QS. Ali Imran (3) : 79
  5. Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)
  6. Kitabul Ilmi, QS. Al Alaq (96) : 1-5

D.    Keutamaan Al-Qur’an
Secara khusus, Al-Qur’an menjadi nama bagi sebuah kitab yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Maka jadilah ia sebagai sebuah identitas diri. Dan sebutan Al-Qur’an tidak terbatas pada sebuah kitab dengan seluruh kandungannya, tapi juga bagian daripada ayat-ayatnya juga dinisbahkan kepadanya. Maka jika mendengar satu ayat Al-Qur’an dibaca misalnya, maka dibenarkan mengatakan bahwa si pembaca itu membaca Al-Qur’an.
  1. Al-Qur’an Adalah Kalamullah
Al-Qur’an merupakan wahyu dan kalamullah yakni firman Allah SWT yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah :
”Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”. (Asy-Syu’ara: 192-195)
Dengan demikian, Al-Qur’an bukanlah kata-kata manusia, bukan pula jin, setan atau malaikat. Al-Qur’an sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Akan tetapi, Al-Qur’an murni kalam Allah disampaikan oleh Rasulullah kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah.
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu”. (Al-Maidah:67)
Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata : “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Barang-siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya.”
  1. Diturunkannya Al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan khusus kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur setelah beliau diangkat menjadi Nabi ketika di Mekah hingga menjelang ajal beliau. Al-Qur’an diturunkan dalam dua periode yakni periode Mekah selama 13 tahun yang disebut dengan ayat-ayat Makkiyah dan periode Madinah selama 10 tahun yang disebut dengan ayat-ayat Madaniyah. Banyak keutamaan dari diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW antara lain supaya lebih mudah dihafal dan dipahami serta disesuaikan dengan keadaan atau kebutuhan umat muslimin.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan berbagai cara. Diantaranya adalah sebagai berikut,
a)      Berupa mimpi yang baik ketika Nabi Muhammad SAW tidur.
b)      Wahyu dibawa oleh Malaikat Jibril dengan menyerupai bentuk manusia laki-laki, lalu menyampaikan firman Allah SWT kepada beliau.
c)      Malaikat Jibril menampakkan diri dalam bentuk yang asli (malaikat) lalu mewahyukan firman Allah SWT kepada beliau.
d)     Wahyu menyerupai bunyi genta. Inilah cara yang paling berat yang dirasakan oleh beliau.
e)      Wahyu datang tidak dengan perantaraan malaikat, melainkan diterima langsung dari Allah SWT.
  1. Al-Qur’an Diriwayatkan secara Mutawatir
Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf, dan disampaikan kepada kita secara mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang) sehingga terpelihara keasliannya. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an dihafal dan ditulis di atas batu, kulit binatang, pelepah kurma, dan apa saja yang bisa dipakai untuk ditulis. Kemudian setahun sekali Malaikat Jibril melakukan repetisi (ulangan) yakni dengan menyuruh Nabi Muhammad SAW memperdengarkan Al-Qur’an yang telah diterimanya. Kemudian pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan, Al-Qur’an dikumpulkan dan dibukukan menjadi mushaf dengan sangat teliti oleh para sahabat hingga sampai kepada umat muslimin di seluruh dunia saat ini.
Allah SWT telah menetapkan untuk memelihara Al-Qur’an dengan cara penyampaian yang mutawatir sehingga tidak terjadi penyimpangan atau perubahan apapun.
“Bahwa sesungguhnya (yang dibacakan kepada kamu) itu ialah Al-Qur’an yang mulia, (yang senantiasa memberi ajaran dan pimpinan), yang tersimpan dalam kitab yang cukup terpelihara, yang tidak disentuh melainkan oleh makhluk-makhluk yang diakui bersih dan suci.”(Al-Waqi’ah: 77-79)
  1. Membaca Al-Qur’an Adalah Ibadah
Membaca Al-Qur’an itu bernilai ibadah. Banyak sekali hadits yang mengungkapkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang memiliki banyak keutamaan. Diantaranya adalah:
“Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barang siapa membaca Al-Qur’an sementara ada kesulitan (dalam membacanya) maka baginya dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).
  1. Al-Qur’an Adalah Mukjizat
Kata mu’jizat menurut Quraish Shihab, berasal dari bahasa Arab, yaitu i’jaz yang berarti melamahkan atau menjadikan tidak mampu. Menurut pakar agama Islam, mukjizat adalah suatu hal atau peristiwa yang luar biasa terjadi melalui seorang yang disebut nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan pada yang meragukan, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan tersebut. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa mukjizat adalah suatu perkara yang luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal itu di luar kesanggupannya.
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Kemukjizatannya antara lain terletak pada fashahah dan balaghahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada tandingannya. Karena gaya bahasa yang demikian itulah, Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar surat Thaahaa yang dibaca oleh adiknya, Fatimah. Karena demikian tingginya bahasa Al-Qur’an, mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengannya apalagi menandinginya.
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah : 23)
Selain itu kemukjizatan Al-Qur’an juga terletak pada isinya. Sampai saat ini, Al-Qur’an masih menjadi sumber rujukan utama bagi para pengkaji ilmu sosial, sains, bahasa, atau ilmu-ilmu lainnya. Banyak ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Berbagai kabar gaib tentang masa lampau dan masa depan pun menjadi bukti lain kemukjizatan Al-Qur’an. Sementara itu, jika memperhatikan cakupan materinya, tampaklah bahwa Al-Qur’an itu mencakup seluruh aspek kehidupan, yakni mulai dari masalah akidah, ibadah, hukum kemasyarakatan, etika, moral dan politik, sejarah semuanya terdapat di dalamnya. Beberapa kemukjizatan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
a)      Bahasanya halus, indah tidak satupun yang mampu menandinginya.
b)      Terpelihara keselamatan dan kemurniannya sejak diwahyukan hingga akhir zaman.
c)      Bahasanya yang dipergunakannya sama untuk semua lapisan masyarakat, bangsa seluruh dunia, baik di Arab, Amerika, Afrika, Afganistan, India, Inggris, Indonesia, Jepang, Belanda, Malaysia dan sebagainya.
d)     Mudah dibaca, dihafal, dipelajari dan dipahami serta diamalkannya.
e)      Merupakan suatu ibadah bagi yang membacanya atau mepelajarinya.
f)       Pembawanya orang yang “Ummi” yakni tidak dapat membaca dan menulis.Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan hasil budi daya manusia, melainkan benar- benar Wahyu Allah SWT.
g)      Menjadi syafaat bagi orang yang membacanya kelak di hari kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahiliy, (beliau berkata), “Aku mendengar Rasulullah bersabda,
“Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya.Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya),
h)      Mencakup dan menyempurnakan ajaran- ajaran kitab- kitab suci sebelumnya.
i)        Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengarihi jiwa pendengarnya.
j)        Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia.
k)      Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
l)        Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
m)    Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumnya.
n)      Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta membedakan manusia hanya dasi takwanya kepada Allah SWT.

E.     Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat islam memiliki banyak fungsi antara lain, sebagai bukti atas kerasulan Muhammad SAW, Sebagai pedoman hidup manusia untuk membedakan yang hak dan yang batil (Al-Furqan). Dapat menjadi peringatan (Al-Dzikr) manakala manusia lalai dalam menjalankan syariat yang dititahkan Tuhan, dapat menjadi pemberi keterangan penjelasan (bayyin) ketika manusia mengalami kebuntuan dalam menghadapi segala persoalan yang dihadapi, dan sebgai petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariat, dan akhlak.
Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa sebuah generasi telah terlahir dari da’wah –yaitu generasi sahabat –yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas dunia ini sebagaimana mereka. Meskipun tidak disangkal adanya beberapa individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekali sejumlah besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode awal dari kehidupan da’wah ini…”
Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun, yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut:
  1. Karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya.
  2. Ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka.
  3. Mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.
Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya. Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari)



BAB III
AL-HADITS

A.    Definisi Hadits dan Sunnah
Hadits atau al-hadits menurut bahasa al-jadid yang artinya sesuatu yang baru, lawan dari al-Qadim (lama). Artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti (orang yang baru masuk/memeluk agama islam). Hadits juga sering disebut dengan al-khabar yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan Hadits. Hadits dengan pengertian khabar sebagaimana tersebut diatas dapat di lihat pada beberapa ayat al-qur’an, seperti QS. Al-Thur (52) : 34, dan QS. Al-Kahfi (18) : 6. Demikian pula dapat dilihat pada hadits berikut,
Hampir-hampir ada seseorang diantara kamu yang akan mengatakan “ini kitab Allah” apa yang halal didalamnya kami halalkan dan apa yang diharamkan didalamnya kami haramkan. Ketahuilah barang siapa yang sampai kepadanya suatu hadis dariku kemudian dia mendustakannya, berati ia telah mendustakan tiga pihak, yakni Allah, Rasul, dan orang yang menyampaikan hadits tersebut”
Secara etimologis hadits bisa berarti baru, seperti kalimat: ”Allah Qadim mustahil Hadits“. Dekat, seperti: ”Haditsul ahli bil Islam“. Khabar, seperti: “Falya’tu bi haditsin mitslihi“.
Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti segala perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad SAW (Af‘al, Aqwal dan Taqrir). Pengertian hadits sebagaimana tersebut diatas adalah identik dengan Sunnah, yang secara etimologis berarti jalan atau tradisi, sebagaimana dalam Al-Qur’an : ”Sunnata  man qad  arsalna ”(Al-Israa’:77). Juga dapat berarti undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku, cara yang diadakan, dan jalan yang telah dijalani. Ada yang berpendapat antara Sunnah dengan Hadits tersebut adalah berbeda-beda. Akan tetapi dalam kebiasaan hukum Islam antara Hadits dan Sunnah tersebut hanyalah berbeda dalam segi penggunaannya saja, tidak dalam tujuannya.
Ada beberapa istilah lain yang merupakan sinonim dari kata hadits, yaitu sunah, khabar, dan atsar.
1.      Sunah
Menurut bahasa adalah (al-sirah) yang artinya perjalanan atau sejarah baik atau buruk masih bersifat umum. Perbedaan hadits dan sunah, jika penyandaran sesuatu kepada Nabi walaupun baharu sekali dikerjakan atau bahkan masih berupa azam (hadits wahmi) menurut sebagian ulama disebut hadits bukan sunah. Sunah harus sudah berulang kali atau menjadi kebiasaan yang telah dilakukan Rasul.
2.      Khabar
Menurut bahasa diartikan al-naba atau berita. Dari segi istilah muhadditsin identik dengan hadits, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi (baik secara marfu’ atau mawaquf dan atau maqthu’) baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat. Mayoritas ulama mengkhususkan hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi, sedang Khabar sesuatu yang datang dari padanya dan dari yang lain, termasuk berita-berita umat dahulu, para Nabi, dan lain-lain. Dengan demikian khabar lebih umum daripada hadits dan dapat dikatakan bahwa setiap hadits adalah khabar dan tidak sebaliknya.
3.      Atsar
Menurut bahasa atsar diartikan peninggalan Nabi atau bekas sesuatu maksudnya peninggalan nabi atau diartikan al-manqul (yang dipindahkan dari Nabi). Jadi, Atsar lebih umum daripada Khabar, karena Atsar adakalanya berita yang datang dari Nabi dan dari yang lain, sedangkan Khabar adalah berita yang datang dari Nabi atau sahabat, sedangkan Atsar adalah yang datang dari Nabi atau dari sahabat, dan yang lain.


B.     Bentuk-Bentuk Hadits
1.      Hadits Qauli
Segala yang disandarkan kepada Nabi SAW yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan akidah, syari’ah, akhlak, maupun yang lainnya.
2.      Hadits Fi’li
Segala yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perbuatannya yang sampai kepada kita.
3.      Hadits Taqriri
Segala hadits yang berupa ketetapan Nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya.
4.      Hadits Hammi
Hadits yang berupa hasrat Nabi SAW yang belum terealsasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘Asyura.
5.      Hadits Ahwali
Hadits yang berpa hal ihwal Nabi SAW yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat dan kepribadiannya.

C.    Macam-Macam Hadits
Adapun pembagian atau penggolongan dari hadits antara lain,
1.      Hadits Shohih (Sah/Benar/Sehat)
Yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.       Sanadnya bersambung.
b.      Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
c.       Matannya (isi) tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
2.      Hadits Hasan (Bagus/Baik)
Bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
3.      Hadits Dho’if (Lemah)
Ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.

4.      Hadits Marfu’ (Semua sanadnya bersandar kepada Rasulullah Saw)
Hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW.
5.      Hadits Mushahhaf (Kesalahan terjadi pada catatan / bacaannya)
6.      Hadits Muttasil (Sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw)
7.      Hadits Mauquf (Sanadnya boleh jadi bersambung, boleh jadi terputus)
Hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu’. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara’id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: “Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah”. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti “Kami diperintahkan..”, “Kami dilarang untuk…”, “Kami terbiasa… jika sedang bersama rasulullah” maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu’.
8.      Hadits Mun-qoti’ (Dho’if, karena terputus sanadnya), Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3)
9.      Hadits Mursal (Dho’if dan Mardud)
Hadits apabila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi’in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi’in (penutur2) mengatakan “Rasulullah berkata” tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
10.  Hadits Mu’allak (Terselubung cacatnya/merusak keshohihan Hadits)
Hadits apabila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: “Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan….” tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).
11.  Hadits Ghorib (Yang menyendiri)
Hadits apabila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur).
12.  Hadits Masyhur (Nyata)
Hadits apabila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.


13.  Hadits Mudallas (Gelap/Menyembunyikan cacat dalam sanad)
Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.
14.  Hadits Mutawatir (Berturut Sanadnya)
Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma’nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat).
15.  Hadits Syadz (Bertentangan)
Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
16.  Hadits Mudraj (Ada tambahan, yang bukan bagian dari Hadits)
Hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya.
17.  Hadits Maqlub (Dho’if. Karena ada pergantian lafaz)
Hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).
18.  Hadits Mudhtorib (Rusak susunan)
Hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.
19.  Hadits Mu’alhal (Menggugurkan dua Perawi aslinya)
Hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma’lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu’tal (Hadits sakit atau cacat).
20.  Hadits Matruk (Dho’if yang paling buruk, perawinya tertuduh Pendusta)
Hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
21.  Hadits Maudhu’ (Palsu. Kebohongan yang diciptakan dan disandarkan kepada Rasul Saw)
Hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
22.  Hadits Munkar (Cacat dan Palsu perawinya kedapatan berbuat Fasiq)
Hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.
Ada enam Kitab Hadits yang ternama, yang merupakan pegangan penjelasan utama bagi umat Islam. Keenam Kitab tersebut ialah : Shohih Imam Al-Bukhari, Shohih Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam An-Nasa’i, Shohih At-Turmidzi, Imam Ibnu Majah.



BAB III
AL-QUR’AN DAN HADITS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

A.    Al-Qur’an sebagai Sumber Hukum Islam
Fungsi Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi bukanlah semata-mata untuk dibaca, dilagukan dan dihapalkan. Akan tetapi lebih jauh dari itu, fungsi Al-Qur’an bertujuan untuk memberikan pedoman bagi umat manusia dalam usahanya mencapai kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Dalam segala aspek kehidupan umat manusia, dapat dipandang sebagai himpunan hukum-hukum Allah SWT secara garis besarnya. Al-Qur’an di dalamnya berbentuk perintah dan larangan. Perintah mengandung kemaslahatan, larangan mengandung mafsadah, dan semua itu  bertujuan menghilangkan beban berat dari pundak manusia.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung masalah hukum, secara garis besarnya dapat disimpulkan tiga asas penting dari pelaksanaan hukum Al-Qur’an, yaitu:
1.      Pensyari’atan Al-Qur’an tidak bersifat memberatkan
Al-Qur’an menyuruh manusia melakukan perbuatan yang baik dan mencegah berbagai macam perbuatan buruk. Pada dasarnya perintah itu bukanlah dimaksudkan untuk memberatkan atau menimbulkan kesukaran. Sebaliknya banyak sekali perundang-undangan Al-Qur’an yang bersifat menghilangkan atau meringankan beban yang terasa memberatkan.
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah : 185)
2.      Menyedikitkan pembebanan
Apabila hukum Islam berprinsip tidak bermaksud memberatkan dalam segala aspeknya, maka dengan sendirinya hukum Islam juga dikatakan menyedikitkan pembebanan (taqlid al-takalif). Karena logikanya, ketika hukum Islam terlampau banyak menetapkan perintah dan larangan, berarti secara otomatis dengan sendirinya memberatkan. Sebagai contoh dapat dilihat dalam surat Al-Maaidah ayat 101.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
3.      Berangsur-angsur dalam menetapkan syari’at
Bangsa Arab adalah bangsa yang tunduk kepada peraturan adat istiadat. Mereka memandang segi buruk dan baiknya sesuatu bukanlah dengan hukum yang tertulis melainkan sejauhmana adat kebiasaan mereka memandang sesuatu itu baik atau buruk. Sebaliknya ada juga yang menurut pandangan mereka jahat mereka buang jauh-jauh.
Karena itu diantara hikmah penetapan hukum secara berangsur-angsur ini adalah untuk menjelaskan kepada bangsaa Arab dan umat manusia umumnya tentang betapa sempurnanya Islam dalam penetapan hukum itu, dan orang-orang yang datang kemudian tidak memikirkan bahwa perbuatan-perbuatan orang sebelum mereka tidaklah dipandang batal karena datangnya peraturan baru yang lain.
Al-Qur’an adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumbernya yang asli dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Allah berfirman,
"Kami menurunkan AI-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu." (An-Nahl : 89)
Adalah amat jelas bahwa dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mengandung pokok-pokok akidah keagamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip-umum hukum perbuatan.


D.    Fungsi Hadits sebagai Sumber Hukum Islam
Secara umum fungsi Hadits adalah untuk menjelaskan makna kandungan Al-Qur’an yang sangat dalam dan global atau li al-bayan (menjelaskan). Hanya penjelasan itu kemudian oleh para ulama diperinci ke berbagai bentuk penjelasan. Secara garis besar ada empat makna fungsi penjelasan (bayan) Hadits terhadap Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut:
1.      Posisi hadits  memperkuat keterangan al-Qur’an (ta’kid).
2.      Hadits sebagai penjelas (bayan) terhadap Al-Qur’an. Penjelasan yang diberikan ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
a.       Memberi penjelasan secara terperinci pada ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat global (tafsil al-mujmal).
b.      Hadits mengkhususkan ayat-ayat al-Qur’an yang umum (takhshish al-‘amm).
c.       Membatasi kemut’lakan ayat al-Qur’an (taqyid al-muthlaq).
3.      Hadits mencabang dari pokok dalam al-Qur’an (tafri’ ‘ala al-ashl)
4.      Menciptakan hukum syari’at (tasyri’) yang belum dijelaskan oleh al-Qur’an, disebut bayan tasyri’.
Sunnah adalah sumber Hukum Islam (Pedoman Hidup Kaum Muslimin) yang kedua setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman kepada Al-Qur’an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya  bahwa Sunnah sebagai sumber Islam juga. Ayat-ayat Al-Qur’an cukup banyak untuk dijadikan alasan yang pasti tentang hal ini, seperti,
1.      Setiap mu’min harus taat kepada Allah dan Rasul-nya (Al-Anfaal:20, Muhammad:33, An-Nisaa’:59, Ali-Imran:32, Al-Mujadalah:13, An-Nur:54, Al-Maaidah: 92).
2.      Kepatuhan kepada Rasul berarti patuh dan cinta kepada Allah (An-Nisaa’:80, Ali-Imran:31).
3.      Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapatkan siksa (Al-Anfaal:13, Al-Mujadalah:5, An-Nisaa’:115).
4.      Berhukum terhadap Sunnah adalah tanda orang yang beriman. (An-Nisaa’:65).
Alasan lain mengapa umat Islam berpegang kepada hadits karena selain memang diperintahkan oleh Al-Qur’an, juga untuk memudahkan dalam menentukan (menghukumi) suatu perkara yang tidak dibicarakn secara rinci atau sama sekali tidak dibicarakan di dalam Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama. Apabila Sunnah tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam berbagai hal seperti tata cara shalat, kadar dan ketentuan zakat, cara haji dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, dan yang menjelaskan secara terperinci justru Sunnah Rasullullah.
Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-ayat yang musytarak (multi makna), muhkamal (mengandung makna alternatif) dan sebagainya yang mau tidak mau memerlukan Sunnah untuk menjelaskannya. Dan apabila penafsiran-penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio sudah barang tentu akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

E.     Hadits dan Sunnah dalam Menetapkan Hukum
Dalam hubungan Sunnah dan Al-Qur’an telah disinggung tentang bayyan tasyri’, yaitu hadits adakalanya menentukan suatu peraturan/hukum atas suatu persoalan yang tidak disinggung sama sekali oleh Al-Qur’an. Walaupun demikian para ulama telah berselisih paham terhadap hal ini. Kelompok yang menyetujui mendasarkan pendapatanya pada ‘ishmah (keterpeliharaan Nabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam bidang syariat) apalagi sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenagan kemandirian Nabi untuk ditaati. Kelompok yang menolaknya berpendapat bahwa sumber hukum hanya Allah, sehingga Rasul pun harus merujuk kepada Allah SWT (dalam hal ini Al-Qur’an) ketika hendak menetapkan hukum.
Apabila fungsi Sunnah terhadap Al-Qur’an didefinisikan sebagai bayyan murad Allah (penjelasan tentang maksud Allah) sehingga apakah ia merupakan penjelasan penguat, atau rinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan, kesemuanya bersumber dari Allah SWT.
Sebenarnya kedudukan Nabi sebagai Rasul pun sudah cukup menjadi jaminan (sesuai dengan fungsinya sebagai tasyri’) adalah harus menjadi pedoman bagi umatnya, dan seterusnya. Tetapi mereka yang keberatan, beralasan antara lain bahwa fungsi Sunnah itu tidak lepas dari tabyin  atas apa yang dinyatakan Al-Qur’an sebagaimana penegasan Allah,
“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” (An-Nahl: 44)
Maka apa saja yang diungkap Sunnah sudah ada penjelasannya dalam Al-Qur’an meski secara umum sekalipun. Sebab Al-Qur’an sendiri menegaskan,
“Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (Al-An’aam:38)
Sebenarnya kedua pendapat itu tidak mempunyai perbedaan yang pokok. Walaupun titik tolak berpikirnya berbeda, tetapi kesimpulannya adalah sama. Yang diperdebatkan keduanya adalah soal adanya hadits yang berdiri sendiri. Apabila betul-betul ada atau hanya karena menganggap Al-Qur’an tidak membahasnya, padahal sebenarnya membahas. Seperti soal haramnya kawin karena sesusuan, menurut pihak pertama adalah  karena ditetapkan oleh Sunnah yang berdiri sendiri, tetapi ketetapan itu adalah sebagai tabyin/tafsir daripada ayat Al-Qur’an yang membahasnya secara umum dan tidak jelas. Mereka sama-sama mengakui tentang adanya sesuatu tersebut tetapi mereka berbeda pendapat tentang apakah Al-Qur’an pernah menyinggungnya atau tidak (hanya ditetapkan oleh Sunnah saja).
Dalam persoalan lain sebenarnya masih banyak hal-hal yang ditetapkan oleh Sunnah saja, yang barangkali sangat sulit kita cari ayat Al-Qur’an yang membahasnya, walaupun secara umum dan global. Oleh karena itulah kita cenderung untuk berpendapat sama dengan pihak yang pertama.
Pada dasarnya seorang Nabi punya peran sebagai panutan bagi umatnya. Sehingga umatnya wajib menjadikan diri seorang Nabi sebagai suri tauladan dalam hidupnya. Namun perlu juga diketahui bahwa tidak semua perbuatan Nabi menjadi ajaran yang wajib untuk diikuti. Memang betul bahwa pada prinsipnya perbuatan Nabi itu harus dijadikan tuntunan dan panutan dalam kehidupan. Akan tetapi kalau kita sudah sampai detail masalah, ternyata tetap ada yang menjadi wilayah kekhusushiyah beliau. Ada beberapa amal yang boleh dikerjakan oleh Nabi tetapi haram bagi umatnya. Di sisi lain ada amal yang wajib bagi Nabi tetapi bagi umatnya hanya menjadi Sunnah. Lalu ada juga yang haram dikerjakan oleh Nabi tetapi justru boleh bagi umatnya.


BAB IV
PENUTUP

Al-Qur’an yang merupakan firman Allah atau kalamullah merupakan mukjizat dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an berisi tentang petunjuk mengenai akidah, syariah, akhlak, ibadah, muamalah, kisah-kisah, berita-berita, benih dan prinsip ilmu pengetahuan dan hukum yang berlaku bagi alam semesta. Oleh karena itu bahwa Al-Qur’an adalah sebagai sumber agama sekaligus sumber ajaran Islam yang berisi syariat Allah.
Secara bahasa, hadits berarti baru, dekat dan khabat (cerita). Dalam pengertian umum hadits diterangkan sebagai segala perkataan, perbuatan dan taqrir yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW. Peran dan kedudukan hadits adalah sebagai tabyin atau penjelas dari Al-Qur’an dan juga menjadi sumber hukum sekunder/kedua setelah Al-Qur’an.
Dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, hadits memiliki beberapa fungsi antara lain bayan tafsir (yang menerangkan ayat-atat yang sangat umum, mujmal dan musytarak), bayan taqrir (yang memperkokoh dan memperkuat pernyataaan Al-Qur’an), bayan taudhih (yang menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-Qur’an), bayan tasyri’ dan bayan murad.                                                                     







DAFTAR PUSTAKA

‘Al-Qaththan, Syaikh Manna. 2011. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Gholib, Achmad. 2006. Studi Islam. Jakarta: Faza Media.
Suparta, Munzier. 1993. Ilmu Hadis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Aizid, Rizem. 2013. Ajaibnya Surat-Surat Al-Qur’an Berantas Ragam Penyakit. Jogjakarta: DIVA Press.
Thabathaba’i, Allamah MH. 1997. Mengungkap Rahasia Al-Quran. Terjemahan. Bandung: Penerbit Mizan.
Umar, Nasaruddin. 2008. Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi Al-Qur’an. Jakarta: Al-Ghazali Center.
Suparta, Munzier. 1993. Ilmu Hadis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Zuhri, Muh. 2011. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Faridl, Miftah. 2001. As-Sunnah Sumber Hukum Islam yang Kedua. Bandung: Pustaka.

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..