Saturday, May 16, 2015

Kekeliruan yang Sering Terjadi Seputar Shalat

Segala puji hanya milik Allah SWT atas beragam nikmat yang dianugerahkan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Merupakan sebuah hal yang diketahui bersama bahwa shalat memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Islam. Shalat adalah tiangnya agama dimana menjadi amalan yang pertama kali dihitung dari setiap diri. Akan tetapi tak jarang kita lihat berbagai praktek shalat yang keliru dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin.
Dua hal yang menjadi syarat diterimanya amal shalih / ibadah kita oleh Allah adalah dilakukan dengan Ikhlas dan Ittiba (mengikuti petunjuk Nabi). Tidak terkecuali dalam shalat, patut kita mencontoh apa yang telah Nabi contohkan dalam praktek shalat. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad, “Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR Bukhari Muslim No.213). Mari kita simak beberapa koreksi atas kekeliruan yang terjadi dalam shalat.

KEKELIRUAN DI LUAR SHALAT
[1] Tergesa-gesa Menuju Tempat Shalat
Berjalan menuju masjid adalah berjalan memenuhi panggilan Allah. Sepatutnya jika kita menjaga ketenangan dan tidak tergesa-gesa saat berjalan menuju tempat shalat. Sehingga ketika telah sampai waktu menunaikan shalat, hati dan pikiran kita pun lebih tenang.
“Apabila kamu mendengar iqamah, maka berjalanlah (ke masjid untuk) shalat berjamaah, dengan tenang dan penuh kewibawaan serta janganlah tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati, maka shalatlah (seperti mereka) dan apa yang terlewatkan darimu, maka sempurnakanlah.” (HR Muslim No.602, Tirmidzi No.325 dan Ibnu Majah No.775)
 [2] Tidak Memperhatikan Pakaian Shalat
Hendaknya kita melaksanakan shalat dengan memakai pakaian yang pantas, baik, sopan dan menutup aurat. Kita dapati saat shalat berjamaah di masjid, terdapat jamaah yang memakai pakaian yang tidak sopan yang dapat mengganggu kekhusyu’an serta mengundang gelak tawa. Selain itu penting juga untuk diperhatikan adalah memilih pakaian yang dapat menutup aurat. Ada dari kaum muslimin ketika shalat memakai kaos yang kurang panjang, sehingga saat sujud akan terlihat bagian pinggang belakangnya. Karena saat sujud otomatis panjang baju akan tertarik ke atas. Sehingga lebih baik memilih pakaian yang lebih panjang dan longgar. Akan tetapi bukan berarti harus memakai pakaian yang mewah dan mahal. Cukup sebatas baik, sopan dan menutup aurat.
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS Al A’raaf 31)
[3] Tidak Memperhatikan Kesucian Badan, Pakaian dan Tempat
Tidak benar jika seseorang hanya memperhatikan kesucian badan saja, sementara pakaian dan tempat shalatnya bernajis. Atau sebaliknya, tempat dan badannya yang najis. Najis bisa saja kita sadari atau tidak sadari ada di sekitar kita. Sehingga kita patut berhati-hati dan jeli terhadap kesucian badan, pakaian dan tempat dari najis ini. Hendaknya kita memeriksa terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat dan mensucikannya dengan baik.
[4] Lewat di Depan Orang Shalat
Banyak dari kaum muslimin yang lewat di depan orang yang sedang shalat baik dengan sengaja maupun tidak. Hal ini biasanya terjadi pada kaum muslimin yang sedang menunaikan shalat sunnah kemudian jamaah lain lewat di depannya. Perlu diketahui bahwa lewat di depan orang yang sedang shalat merupakan kesalahan besar bahkan dianggap sebagai dosa.
"Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengtahui dosa (yang akan didapatkannya karena perbuatan itu), niscaya berdiri sambil diam selama empat puluh (masa) lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang shalat.” (HR Bukhari No.510, Muslim No.507)
Oleh karena itu, apabila kita hendak mengerjakan shalat sendiri atau menjadi imam, baiknya ada dinding atau pembatas lainnya di depan kita. Hal ini untuk menghindarkan orang lain dari dosa karena lewat di depan kita selain itu juga untuk menjaga kekhusyu’an shalat kita.
“Nabi berdiri shalat dekat pembatas (sutrah) yang jaraka antara beliau dengan pembatas di depannya 3 hasta.” “Jarak antara tempat sujud dengan pembatas tersebut kurang lebih cukup untuk dilewati seekor anak kambing.” (HR Bukhari No.280)
[5] Tidak Mencari Jamaah dan Memilih Shalat Sendirian
Banyak diantara kaum muslimin saat ketinggalan shalat berjamaah dengan imam, ia kemudian shalat sendirian tanpa mencari atau ikut  jamaah shalat baru. Shalat berjamaah adalah fardhu bagi laki-laki baik ketika berada di masjid, rumah, perjalanan, dalam kondisi aman atau dalam ketakutan. Terlebih lagi jika di masjid.
“Shalat seseorang dengan satu orang lain lebih banyak pahalanya dan lebih mampu membersihkan dosa daripada shalat seseorang sendirian. Dan shalat seseorang dengan dua orang lebih banyak pahalanya dan lebih mampu membersihkan dosa daripada shalat seseorang sendirian. Dan jika dilakukan bersama lebih banyak orang, maka itu lebih dicintai oleh Allah.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
[6] 2 Jamaah yang Bersamaan
Keadaan ini terjadi ketika tertinggal shalat berjamaah saat imam tasyahud akhir, kemudian jamaah yang baru datang membentuk jamaah baru tanpa menunggu jamaah sebelumnya selesai shalat. Bisa pula terjadi ketika melihat jamaah yang sedang shalat tidak dikenalnya atau terlalu sedikit jumlahnya sehingga membuat jamaah baru lagi. Hal ini khususnya terjadi di masjid yang tidak mempunyai jamaah tetap.
Hal ini dimakruhkan menurut pendapat jumhur ahli ilmu. Jamaah kedua yang dilakukan pada masjid dan waktu yang sama ini dapat memecah belah persatuan hati kaum muslimin. Ini menyelisihi hikmah berjamaah yang berupa kesatuan hati dan persatuan. Hal ini juga dapat mengganggu kekhusyu’an dan konsentrasi shalat karena terdapat dua suara imam bersamaan. Sehingga baiknya diharapkan untuk tidak ketinggalan shalat jamaah yang pertama atau menunggu hingga jamaah yang ada selesai terlebih dahulu.
[7] Menunggu Imam Bangkit Berdiri Saat Tertinggal Shalat
Apabila seseorang terlambat shalatnya dan mendapati imam sedang ruku’ atau sedang sujud, sebagian orang menunggu imam tasyahud atau bangkit berdiri. Jika makmum masuk ke masjid sudah sepantasnya ia segera mengikuti gerakan imam untuk shalat. Bagaimanapun gerakan yang sedang dilakukan imam ketika itu. Meskipun imam sedang dalam keadaan sujud, atau bangkit dari ruku’ dan semisal itu. Haditsnya sama seperti pada poin 1 diatas. Lebih utama untuk segera mengikuti shalat.

[8] Shaf Shalat Tidak Lurus dan Longgar
Ciri khas umat Islam dalam hal beribadah maupun di luar ibadah adalah barisannya yang rapat dan lurus. Berdiri dalam shalat tidak bisa dilakukan seenaknya dalam konteks shalat berjamaah. Banyak riwayat maupun dalil akan keutamaan lurusnya barisan / shaf yang merupakan kesempurnaan shalat. Kekeliruan yang banyak terjadi di kaum muslimin yaitu  jamaah tidak meluruskan shafnya sebelum shalat maupun setelah bangun dari sujud untuk rakaat selanjutnya. Ada pula yang jamaah yang berdiri sendirian terpisah maupun jauh dari barisan makmum lainnya. Kekosongan dan kelonggaran ini merupakan tempat setan untuk mengganggu shalat kita. Lurus dan rapatnya barisan shalat tidak hanya tanggung jawab imam shalat saja akan tetapi makmum juga, baik tua atau muda tidak terkecuali.
“Luruskanlah shaf kalian, luruskanlah pundak-pundak kalian, tutuplah celah-celah yang kosong, jangan beri ruang untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutus shaf, maka Allah akan memutuskannya.” (HR Abu Dawud No.666)
Selain itu didapati pula, jamaah yang tidak mengisi shaf yang ada tetapi membuat shaf yang baru. Tidak diperbolehkan membuat shaf baru jika shaf depannya masih ada yang kosong. Dalilnya serupa di atas.

KEKELIRUAN DALAM SHALAT
[1] Tidak Meniatkan Shalat di Hati
Banyak pendapat ulama yang menyebutkan bahwa niat shalat sama seperti niat pada ibadah lainnya yang tidak perlu untuk dilafadzkan. Hal ini dikarenakan tidak ada riwayat tentang lafadz niat pada shalat. Niat merupakan kehendak hati, sebagaimana yang disepakati oleh ulama lintas madzhab bahwa tempat niat adalah di dalam hati. Begitu pula pada amal ibadah lainnya selain shalat.
Pelafadzan niat shalat ini berkembang sebagai upaya mempermudah pembelajaran bagi anak-anak kecil maupun orang yang baru masuk Islam. Tidak disyaratkan untuk melafadzkan niat secara lisan, meskipun demikian diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukannya. Yang menjadi kekeliruan adalah karena terbiasa mengucapkan niat secara lisan sehingga di dalam hatinya belum berniat. Oleh karena ibadah itu berawal dari niat, dan niat itu berupa kesadaran dan kehendak hati. Sehingga perlu diperhatikan apakah hati kita juga telah berniat sebagaimana lisan kita.
“Sesungguhnya semua amalan itu bergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR Enam Imam)
[2] Tidak Melihat ke Tempat Sujud
Posisi berdiri yang benar ketika melakukan shalat adalah melihat ke arah tempat sujud. Sebab melihat ke tempat sujud sesuai dengan sunnah Nabi dan dapat membuat shalat menjadi khusyu’. Oleh karena itu diharapkan untuk menjaga pendangan kita saat sedang shalat. Lebih utama jika tidak memejamkan mata apabila tidak ada sebab tertentu. Memejamkan mata saat shalat dapat menyebabkan kita tertinggal gerakan shalat imam serta dapat menimbulkan rasa kantuk. Selain juga dilarang juga menengok ke kanan, ke kiri atau ke atas saat shalat.
“Saat shalat Nabi biasa menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke bumi.” (HR Baihaqi dan Hakim)
“Hendaklah orang-orang berhenti menengadah ke langit ketika sedang shalat atau matanya tidak dikembalikan lagi kepada mereka.” (HR Bukhari No.408 Muslim)
“Jika kalian shalat janganlah kalian menoleh, karena Allah senantiasa menghadapkan wajah-Nya ke wajah hamba-Nya yang sedang shalat selama ia tidak menoleh.” (HR Tirmidzi No.353)
[3] Membaca Doa Shalat Terlalu Keras
Bacaan dalam shalat tidak boleh mengganggu orang lain, karena Nabi pernah menegur sahabat yang berbuat demikian. Bacaan dalam shalat itu berisi doa. Etika dasar dalam berdoa adalah diucapkan dengan lirih, penuh rendah diri dan rasa takut kepada Allah. Terdapat pula pendapat yang menyebutkan bahwa tidak benar membaca bacaan shalat di dalam hati. Akan tetapi baiknya diucapkan dengan lirih (sir) dengan menggerakkan bibirnya sehingga bisa mendengar apa yang dibacanya.
“Orang yang shalat sedang bermunajat kepada Tuhannya. Oleh karena itu hendaklah ia memperhatikan munajatnya kepada Tuhannya dan janganlah seseorang mengeraskan bacaan Al-Qur’annya sehingga mengganggu lainnya.” (HR Bukhari dan Malik)
[4] Mendahului Ucapan “Amin” Imam
Ucapan amin merupakan sunnah dalam shalat. Diantara kekeliruan yang terjadi adalah makmum mendahului ucapan amin sang imam. Atau imam tidak mengucapkan amin dengan keras. Nabi menyuruh makmum mengikuti bacaan amin imam segera setelah imam mengucapkan amin. Sehingga makmum mengucapkannya bersamaan dengan ucapan imam.
“Jika imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin. Barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, ia akan diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari No.780)
[5] Mendahului Gerakan Imam
Dalam shalat berjamaah, makmum tidak diperkenankan mendahului imam atau membarenginya, karena Nabi telah memperingatkan hal itu. Hukumnya haram jika mendahului imam dan makruh jika gerakannya bersamaan dengan imam. Yang disunnahkan adalah mengikuti gerakan imam tanpa menunggu-nunggu atau menunda. Hal ini karena posisi imam dalam shalat jamaah adalah memimpin shalat, sedangkan makmum yang  mengikuti. Begitu pula saat mengucapkan salam, makmum sebaiknya menunggu imam selesai mengucapkan salam, kemudian baru mengikuti.
“Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian. Maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk, sujud dan ketika berdiri atau ketika meninggalkan tempat shalat. Karena aku melihat kalian dari depan dan belakangku.” (HR Muslim No.989)
[6] Tidak Meluruskan Rukuk dengan Sempurna
Seharusnya ketika rukuk keadaan punggungnya harus lurus seperti lurusnya punggung jika diletakkan wadah yang berisi air, airnya tidak tumpah. Kesalahan yang terjadi pada banyak kaum muslimin adalah melakukan rukuk tidak sempurna. Baik itu rukuknya kurang condong ke bawah maupun terlampau condong ke bawah hingga tidak lurus. Posisi jari-jari tangan juga perlu diperhatikan.
“Jika Rasulullah sedang rukuk, maka ia tidak meninggikan kepalanya juga tidak merendahkannya akan tetapi sejajar di tengah-tengah.” (HR Muslim)
“Nabi jika sedang rukuk maka merenggangkan jari-jarinya dan jika bersujud maka menyatukannya.” (HR Al Hakim)
[7] Posisi Sujud yang Keliru
Berikut beberapa posisi sujud yang keliru dan masih ditemukan di kaum muslimin. Pertama adalah menjulurkan kedua lengannya saat sujud dengan menempelkan ke lantai. Yang benar adalah sujud dengan mengangkat kedua siku tangan.
“Luruskan posisi sujud kalian. Janganlah salah seorang dari kalian menjulurkan kedua lengannya seperti anjing menjulurkan (kakinya).” (HR Bukhari No.822 Muslim No.1130)
Kekeliruan lainnya adalah menempatkan telapak kaki di atas telapak kaki lainnya. Posisi dimana telapak kaki dibebankan pada kaki yang lain ini kurang tepat. Jari-jari kaki kita seharusnya diposisikan menempel lantai dan menghadap ke arah kiblat begitu pula posisi telapak tangan. Saat sujud pun, hidung juga menempel ke lantai karena merupakan tujuh anggota badan dalam sujud.
“Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang yaitu dahi (sambil menunjukkan tangannya pada hidungnya), kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung kaki.” (HR Bukhari Muslim)
 [8] Menyepelekan Dzikir Setelah Shalat
Yang seharusnya menjadi keutamaan setelah shalat adalah menyibukkan diri dengan berdzikir dan berdoa kepada Allah. Seseorang yang selesai shalat hendaknya tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat shalatnya sebelum berdzikir. Minimal membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Apabila kita tidak menggunakan momen setelah shalat untuk dzikir dan doa, biasanya kita tidak mempunyai momen lain di luar shalat untuk melakukannya. Apalagi setelah shalat merupakan salah satu waktu yang utama doa diterima oleh Allah.
“Siapa yang bertasbih setiap selesai shalat sebanyak 33x dan bertahmid 33x, dan bertakbir 33x, dan menggenapkan seratus dengan ucapan tahlil. Maka diampunkan seluruh kesalahannya sekalipun seperti buih di lautan”. (HR Muslim No.597)

Semoga hal ini dapat membawa kita semua pada perbaikan ibadah shalat kita. Karena kita tidak tahu apakah amal shalih kita diterima oleh Allah atau tidak. Terlebih lagi apabila shalat yang kita kerjakan selama ini rusak atau salah, tentu menjadi sebab tidak diterimanya amal kita. Kami tutup dengan hadits nabi muhammad.
“Nasehat adalah termasuk pokok agama (Islam).” (HR Muslim No.55)
“Sampaikanlah (dariku) walau satu ayat”

Sumber Referensi:
Sifat Shalat Nabi. Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
Ringkasan Fiqih Islam. Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Shalat. Budiman Mustofa.

No comments:

Post a Comment

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..